Babahane Yang Tersekat Di Pinggiran Boas, Kota Kecamatan Malaka Timur

oleh -1.814 views

Betun, LikuraiOnline.com —- Andai kata tidak ada kali ini, kami adalah bagian dari Kota Boas.

Demikian ungkapan Moses Luan, warga Baki, Dusun Babahane A, Desa Wemeda, Kecamatan Malaka Timur.

Siang itu, Selasa (19/3/19), seperti biasanya, Moses harus menyeberang kali yang memisahkan dua Dusun, yakni Babahane A dan Babahane B dari pusat Desa Wemeda dan Boas, Kota Kecamatan Malaka Timur.

Sambil menenteng bawaan di pundaknya, Moses memandu wartawan media ini menyeberangi kali Wemeda, persis di titik temu dua kali, yakni Kali Mota Hoar dan Kali Talimetan.

“Tadi teman saya berceritera, camat dan para pegawai baru saja menyeberang ke Babahane sekitar jam lalu”, tutur Moses sambil terus berusaha melawan derasnya arus sungai sejauh kurang lebih 90 Meter tersebut.

“Beberapa hari lalu, kami terpaksa menandu seorang ibu hamil yang akan melahirkan. Malam-malam, dibawa guyuran hujan dan derasnya arus banjir”, lanjut Moses, Kader Posyandu tersebut.

Kurang lebih 300 Meter dari pinggir kali, tampak sebuah kompleks sekolah. Itulah Sekolah Dasar Inpres Babahane, yang dibangun sejak tahun 1998.

Theresia Mako, S. Pd, Kepala Sekolah SDI Babahane, di depan Camat Malaka Timur dan staf bersama Babinsa Kodim Malaka Timur mengungkapkan, saat ini jumlah murid di sekolahnya berjumlah 280 orang.

Dari jumlah tersebut, ada 60 lebih siswa yang berdomisili di seberang kali, yang nota bene harus berhadapan dengan banjir pada saat musim hujan seperti ini.

“Kami para guru sebanyak 13 orang, hanya satu orang yang tinggal di sekitar sekolah. Sisanya tinggal di sebelah kali.

Karena itu, ketika ada banjir kami tidak bisa sekolah”, kata Theresia, diiyakan para guru lainnya.

Gaspar Asa Bria,  Kepala Dusun Babahane A pun memiliki ceritera tersendiri.

“Jumlah Kepala Keluarga di Dusun Babahane A dan Duaun Babahane B sekanyak 130 KK. Hampir semuanua petani. Pada musim hujan seperti ini, kami kesulitan untuk memasarkan hasil kebun kami”, ujar Gaspar.

Moses, Theresia, Gaspar dan ratusan warga lain tersekat oleh bentangan kali yang sesekali bisa merenggut nyawa mereka.

Jarak mereka dari Kota Boas hanya sepelempar batu. Tapi apa daya?

Mereka kini menaruh harapan pada kebijakan Pemkab Malaka dibawa komando Bupati dr. Stefanus Bria Seran membangun jembatan penghung didaerah tersebut.

Camat Malaka Timur, Kristina H. Ngadji siang itu mendatangi warga Babahane. Melihat dari dekat, mendengar sendiri keluhan warga dan turut mengalami sendiri apa yang dialami warganya.

“Kita sudah putuskan dalam dalam Musrembang di tingkat kecamatan untuk mengusulkan pembangunan jembatan gantung. Nanti, kita akan perjuangkan pada musrembang di tingkat Kabupaten”, ujar Kristina yang datang ke Babahane bersama Babinsa dan beberapa staf Kecamatan Malaka Timur.

Kristina juga berjanji, pihaknya akan segera mendiskusikan hal itu dengan beberapa pihak terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Malaka.

Warga Babahane sangat membutuhkan jembatan untuk meretas sekat yang memisahkan mereka dari saudara-saudara mereka di Desa Wemeda, di Kota Boas, di Malaka Timur dan di Malaka.*(jgs/user)