Libatkan Budaya Dalam Perhelatan ETMC, Tokoh Adat Di Malaka Sebut SBS Konseptor Pembangunan Berbasis Budaya

oleh -1.117 views

Betun, LikuraiOnline.com —- Konsep Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH (SBS) untuk “mempertaruhkan” budaya Malaka dalam perhelatan Turnamen Sepak Bola El Tari Memorial Cup (ETMC) mendapat perhatian khusus dari beberapa tokoh adat di Kabupaten Malaka.

Nai Loro Wewiku, Wandelinus Klau ketika ditemui di kediamannya di Desa Umalor, Kecamatan Malaka Barat, Jumat (21/06/2019) mengungkapkan, dirinya selama ini secara diam-diam mengamati segala persiapan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Malaka untuk mensukseskan penyelenggaraan ETMC.

“Selama ini saya amati semua persiapan. Sebagai tokoh adat tentu saya senang karena beberapa tradisi adat dan budaya kita dilibatkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari pementasan seni budaya hingga beberapa tradisi adat seperti Hase Hawaka dan Hamata.

Saya lihat di media, beberapa utusan sudah menyampaikan undangan secara adat, yaitu Hamata, kepada Bupati dan Forkompimda di kabupaten-kabupaten lain.

Ini luar biasa. Sederhana tetapi tidak akan dilupakan dalam perhelatan besar begini.

Dan dalam hal ini, tidak berlebihan kalau kita apresiasi Bupati Malaka yang sudah mengatur semua dengan baik”, ungkap Wandelinus.

Menurut Wandelinus, sosok pemimpin seperti SBS yang menghargai kearifan lokal sangat dibutuhkan untuk memimpin Malaka yang notabene bekas kerajaan besar di tempo dulu.

Hal senada diungkapkan Ferdinandus Seran, Fukun Laetua Bauna Weoe ketika ditemui di Rumah Adat Laetua Bauna di Desa Weoe, Kecamatan Wewiku, Sabtu (23/06/2019).

Menurut Ferdinandus, Bupati Malaka telah menempuh jalur yang benar yaitu melibatkan adat dan kebudayaan Malaka dalam kegiatan olahraga, termasuk Hamata atau undangan secara adat yang telah disampaikan utusan dari Malaka kepada Bupati dan pembesar di Provinsi dan Kabupatrn lain.

Ferdinandus mengatakan, Hamata itu tradisi menyampaikan undangan secara adat dengan membawa siri pinang.

Undangan itu disampaikan kepada kerabat, kenalan yang dianggap kerabat dan pihak lain yang dihargai dan dihormati.

“Hamata itu biasa disampaikan kepada kerabat dekat atau pihak lain yang dianggap kerabat juga atau dihornati.

Jadi ada makna kekerabatan di situ. Kalau tradisi ini kita bawa ke bidang olahraga maka sangat tepat karena olahraga juga punya makna persaudaraan”, jelas Ferdinandus.

Sebagaimana diberitakan media beberapa hari terakhir ini, beberapa utusan dari Malaka yang terdiri dari Perangkat Daerah, DPRD dan Paguyuban telah berada di kabupaten-kabupaten lain untuk menyampaikan undangan secara adat yang dalam tradisi Malaka disebut HAMATA.*(john germanus)