Teduh Dalam Badai; Menyimak Visi Cerdas SBS Di Balik Keputusan Kontroversial SDN Oevetnai

oleh -378 views

(Catatan Harian Seorang Jurnalis)

Oleh: John Germanus Seran – Wartawan likuraionline.com

Herman dan Manuel bergegas memyusuri jalan setapak berbatu.  Seragam putih – merah lusuh membalut tubuh kecilnya. Tanpa alas kaki. Kadang berlari-lari kecil mengimbangi laju sang waktu.

Langkah kedua bocah itu terhenti di depan bangunan reot berdinding bebak dan beratap daun. Tampak tambalan daun baru pada beberapa bagian.

Tampak dua kayu panjang menopang di satu sisi bagunan itu agar tidak rubuh. Bangunan itu adalah sekolah dua bocah tersebut. SDN Oevetnai, namanya.

Herman dan Manuel terpelongo melihat halaman sekolahnya sepi. Padahal, mentari sudah beranjak tinggi.

Biasanya, dua bocah itu sudah ditunggu jeweran  dan omelan ibu guru karena terlambat. Tetapi, dimana jeweran dan omelan ibu guru itu?  Di mana murid-murid lain?

“Herman…  Manuel….  Buat apa kalian di situ?  Kalian tidak tahu sekolah kita ditutup?  Kita tidak bisa sekolah lagi”,  suara Maria membangunkan dua bocah tersebut dari lamunannya.

“Pulang sudah. Lebih baik kita bermain di kebun bapak saya saja. Disana ada mangga masak. Ayo sudah, kenapa kalian diam saja?”,  suara Maria terus memecah keheningan Dusun Wetalas kecil pagi itu.

Manuel bergegas meninggalkan dua sahabatnya. Berlari menuruni bukit gersang berbatu. Sesekali kaki telanjangnya terpeleset pada kerikil jalanan.

“Bapak, kami tidak sekolah lagi. Sekolah kami ditutup. Kami sekolah dimana lagi? Bagaimana saya bisa jadi polisi kalau tidak sekolah lagi?”,  Manuel memberondongi sang ayah dengan rentetan pertanyaan yang dijawab sang ayah dengan tatapan kosong tanpa bahasa.

Kepanikan Manuel dan sang ayah, Herman dan Maria adalah kepanikan anak-anak dan orangtua ketika SBS mengambil keputusan tegas, SDN Oevetnai ditutup, menyusul sebuah foto di akun Facebook tentang  murid-murid berseragam menambal atap bangunan sekolah tersebut.

Kepanikan Manuel dan kawan-kawannya dalam sekejap berkembang menjadi kepanikan masal yang akhirnya menular hingga ke luar Malaka.

Apa kata SBS tentang kepanikan masal menyusul kebijakannya menutup SDN Oevetnai di Dusun Wetalas,  Desa Weulun,  Kecamatan Wewiku?

Teduh dalam badai. Ini ungkapan yang pantas disematkan kepada SBS menyusul sikap diam dan tenangnya menghadapi gejolak protes yang terus bergelora di tengah masyarakat.

Publik menilai SBS tidak punya hati karena membatasi hak anak-anak di wilayah tersebut untuk mendapatkan pendidikan dasar.

Publik beramai-ramai memvonis SBS tidak memberikan solusi terhadap kesulitan sarana yang dialami  SDN Oevetnai. Benarkah demikian?

Benarkah SBS tidak punya hati? Benarkah SBS dengan kuasa sebagai kepala daerah membunuh masa depan anak-anak bangsa?

SBS memerintahkan aktivitas di SDN Oevetnai dihentikan. Para murid dititipkan ke sekolah terdekat.

Begitu juga para guru. Publik menilai SBS arogan dan tidak bijak dengan keputusan ini. Berbagai apriori membonceng di setiap opini miring yang berhembus tak terbendung laksana badai yang menerpa dan menggoncang bahtera pemerintahan yang diawaki sang nahkoda, SBS.

“Nahkoda sejati teruji dalam terpaan badai, seperti seorang prajurit yang diuji di medan perang”, kata Agatha Christi, Novelis kenamaan dunia yang melegenda dengan karya-karya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Begitulah visi cerdas seorang SBS untuk memoles wajah dunia pendidikan di tanah Malaka mulai terbaca dalam guncangan badai berbagai opini miring publik.

“SDN Oevetnai akan kita bangun jadi sekolah model”. Itu visi cerdas seorang Bupati, visi seorang kepala daerah, visi briliant seorang SBS mengukir wajah dunia pendidikan di Rai Malaka.

Bahwa membangun tidak boleh tanggung-tanggung. Kalau mau berlayar harus siapkan kapal yang baik. Kapal tersebut harus dikemudikan oleh nahkoda yang tahu betul bagaimana mengemudikan kapal tersebut ke tujuannya.

Sang Nahkoda harus dibantu oleh awak-awak kapal yang paham betul tugas dan tanggung jawabnya. Lalu, apakah ada penumpang yang mau menggunakan jasa kapal tersebut?

Mendirikan sebuah sekolah, bagi SBS, tidak jauh berbeda dari analogi di atas. Mendirikan sekolah harus menyiapkan bangunan yang memadai.

Sekolah tersebut harus dipimpin oleh kepala sekolah yang tahu bagaimana mengarahkan sekolah tersebut pada tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Kemudian, dalam menyelenggarakan pendidikan di sekolah tersebut kepala sekolah dibantu oleh guru-guru yang tahu tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar dan pendidik. Lalu, apakah ada murid yang akan mengenyam pendidikan di sekolah tersebut?

SDN Oevetnai yang diberhentikan SBS dari setiap aktifitasnya kala itu ibarat mengarungi samudera luas dengan menggunakan rakit.

Hal ini dianggap kemalangan terbesar yang tidak boleh dibiarkan terus terjadi dalam samudera dunia pendidikan tanah Malaka. Bagi SBS, membiarkan sebuah rakit terombang-ambing di tengah samudera adalah sebuah kekeliruan.

Rakit itu harus diganti dengan sebuah kapal yang layak. Dan rakit itu, sudah sepatutnya tidak dibiarkan ada sehingga mengganggu laju sang kapal untuk memghantarkan generasi-generasi bangsa ke dermaga cita-cita maha luhur.

Konsep cerdas yang sangat visioner ini yang kemudian ditafsir secara keliru, yang pada akhirnya berhembus menjadi badai yang mendera dan mengguncang pelayaran Rai Malaka menuju dermaga kesejahteraan dan kemakmuran bersama sang nahkoda, SBS.

Tetapi badai itu tidak lantaran mengguncang keyakinan seorang SBS pada tujuan luhur pelayarannya bersama puluhan ribu rakyat Malaka.

Dari Kobalima sampai Io Kufeu, dari Malaka Timur sampai Wewiku. Maka dusun kecil Wetalas adalah bagian tak terpisahkan dari tanah Malaka yang harus diupayakan juga kesejahteraannya oleh sang nahkoda, SBS.

” Saya mau mereka bisa menikmati perjalanan yang menyenangkan menuju masa depan itu.

Saya sangat menghargai semangat dan pengorbanan anak-anak itu untuk meraih masa depannya karena itu sangatlah naif jika saya biarkan anak-anak itu berlayar dengan rakit menuju dermaga masa depannya”, kata SBS kala itu.

SBS tahu apa yang harus dilakukan untuk menghantar anak-anak Malaka, tidak terkecuali anak-anak dusun kecil Wetalas menuju dermaga masa depan yang gemilang.

Dan SBS melakukan itu untuk anak-anak Wetalas. Tanpa peduli gemuruh badai petir dan halilintar yang menghadang. Tanpa sedikitpun goyah oleh pukulan ombak yang bergulung. Di atas keyakinan yang kokoh teguh pada niat tulus suci membangun masa depan Malaka, SBS tetap teduh dalam badai.

Tekad SBS tetap bulat: mewujudkan mimpi memoles wajah SDN Oevetnai di dusun kecil Wetalas menjadi SDN Oevetnai yang tidak lagi beratapkan daun gewang, tidak lagi berdindingkan ‘bebak’ dan tidak lagi berlantaikan tanah.

Lebih dari itu, SDN Oevetnai, sebagaimana sekolah-sekolah lain di negeri ini, mesti memiliki nahkoda yang piawai dan dibantu oleh awak-awak yang mahir dibidangnya. Bagi SBS, SDN Oevetnai mesti layak membawa anak-anak didiknya menuju dermaga masa depannya.