Menoreh Catatan Pada Lembar Sejarah ETMC Bersama SBS

oleh -691 views

(Catatan Harian Seorang Jurnalis)
John Germanus Seran — Wartawan LikuraiOnline.com

Pesta akbar El Tari Memorial Cup (ETMC) 2019 telah mulai. Kontingen peserta ETMC dari berbagai Kabupaten sudah mulai berdatangan, mulai dari ujung barat Pulau Flores, yakni Kabupaten Manggarai Barat.

Gaung pesta akbar tersebut semakin terasa menggema ke seantero jagat Flobamorata. Catatan demi catatan mulai ditoreh dengan tinta emas pada lembar-lembar sejarah penyelenggaraan El Tari Memorial Cup di Bumi Nusa Tenggara Timur. Catatan yang belum pernah dibuat dalam 28 kali penyelenggaraan kasta tertinggi turnamen sepak bola tertinggi di NTT ini.

Catatan yang pada akhirnya memaksa seorang Ketua Kontingen Manggarai Barat, Ovan Adu, dan saya yakin akan memaksa semua mulut untuk mengaku: “Yang seperti ini belum pernah kami alami dalam penyelenggaraan ETMC sebelumnya”.

Pertama, dalam catatan sejarah perhelatan ETMC, belum pernah ada panitia penyelenggara menyampaikan undangan secara lisan sesuai tradisi adat istiadat kabupaten penyelnggara. Kabupaten Malaka melakukan hal itu.

Perwakilan Pemerintah daerah, Perwakilan Wakil Rakyat Malaka dan Perwakilan Paguyuban yang ada di Kabupaten Malaka diutus untuk “Hamata”, yakni mengundang secara lisan sesuai adat istiadat Masyarakat Malaka.

Hal ini yang kemudian membuat para pemangku adat di Malaka, semisal Nai Loro Wewiku, Wandelinus Klau menyebut SBS konseptor pembangunan berbasis budaya. Dan karena bal itu juga, Kabupaten Manggari mengubah keputusannya untuk terlibat dalam ETMC 2019 di Kabupaten Malaka. Padahal, sebelumnya Kabupaten Manggarai telah memutuskan untuk absen alias tidak terlibat.

Ke Dua, penjemputan dan penyambutan kontingen secara istimewa. Hal ini kemudian memaksa Ketua Kontingen Manggarai Barat untuk memgakui, “Luar biasa, kami disambut layaknya sang juara. Kami tidak alami hal ini selama mengikuti turnamen El Tari Cup. Kami dijemput, diarak keliling Kota Betun, kemudian dijamu di Kediaman Bupati Malaka”.

Para tokoh adat dan tokoh masyarakat Malaka, semisal Fukun Laetua Bauna, Ferdinandus Seran, kemudian menilai Bupati Malaka, Sang SBS, sosok yang menghargai tradisi rakyat Malaka, dalam hal bagaimana menerima, memperlakukan dan menghargai tamu yang datang di rumah.

“Orang Malaka, sehari-harinya boleh makan apa adanya, tetapi akan potong ayam jika ada tamu yang datang di rumah” ungkap Ferdinandus untuk melukiskan bagaimana Malaka di bawah komando SBS memperlakukan para tamu Kontingan ETMC.

Ke Tiga, Pemkab Malaka menyediakan penginapan gratis untuk kontingen-kontingen dari berbagai Kabupaten yang akan mengikuti turnamen ETMC di Malaka. Seorang mantan atlet yang pernah mengikuti kompetisi ETMC sebelumnya di Kabupaten lain mengaku, yang seperti ini baru terjadi dalam sejarah ETMC.

Kontingen Manggarai Barat, kontingen pertama yang menginjakkan kaki di Tanah Malaka mengaku sangat puas dengan hal ini. Penginapan disiapkan secara gratis. Paguyuban Manggarai Barat yang ada di Malaka digandeng panitia untuk mendampingi kontingen. “Kami merasa tersanjung karena diperlakukan secara istimewa. Kami merasa seperti di kampung sendiri karena didampingi saudara sendiri”, ujar salah satu anggota kontingen Manggarai Barat.

Ya, untuk tujuan itulah Pemkab Malaka berupaya sekuat tenaga untuk mempersiapkan ETMC 2019. “Supaya semua kontingen merasa nyaman dan merasakan Malaka sebagai rumah sendiri. Supaya aroma persaudaraaan menyata dalam pesta akbar ETMC 2019. Supaya sejarah membaptis Malaka menjadi rumah untuk semua dan saudara bagi semua. Dan sejarah telah melakukan itu.

Selama sebulan ke depan, Malaka akan menjadi rumah untuk semua dan saudara bagi semua. Dalam sebulam ke depan sejarah akan mencatat pada lembar-lembar keabadiannya, bahwa di tanah perbatasan ini, bahwa di Rai Malaka ini pernah dihelat pesta akbar ETMC. Dan pesta akbar ETMC di Malaka akan dikenang dalam perjalanan propinsi ini karena catatan-catatan unik yang belum pernah ada dan mungkin tidak akan ada dalam lembar sejarah ETMC. Mari berpesta.*