Mengukir Wajah Malaka di Bidang Infrastruktur Bersama SBS

oleh -516 views

(Catatan Harian Seorang Jurnalis)

Oleh: John Germanus Seran – Wartawan likuraionline.com

Sore itu langit cerah. Alex Klau Seran mengayunkan langkah kakinya menyusuri tepian jalan hotmix di kampungnya,  Sukabilulik,  Desa Oan Mane,  Kecamatan Malaka Barat.

“Kami sudah melihat Malaka.  Rasanya kami baru melihat terang di usia kami yang sudah tua ini.  Ini hal baik yang akan dinikmati anak cucu kami di tanah kelahiran mereka sendiri”, kata Alex tentang ruas jalan yang baru dihotmix.

Kampungmya Alex di  Sukabilulik memang terisolasi sejak tahun 2000 silam, ketika banjir bandang memporak-porandakan Malaka bagian dataran (Belu Selatan ketika itu). Rumah-rumah rakyat tertimbun sedimen, infrastruktur jalan remuk tak berbentuk.

Sejak itu, Alex dan warga lain di Desa Oan Mene dan Desa Sikun tidak ‘melihat Malaka’ lagi. Akses ke Kota Kecamatan Malaka Barat adalah sebuah perjalanan yang sangat melelahkan.

Jalan yang berlumpur layaknya kubangan kerbau.  Susah dilewati kendaraan roda dua sekalipun. Kadang harus berjalan kaki untuk sampai ke Besikama, pusat pemerintahan kecamatan, pusat ekonomi dan pusat kehidupan rohani.

Adalah SBS, arsitek yang jiwa dan raganya terpatri untuk mengukir wajah daerah ini. SBS telah menjawab kegelisahan Alex dan generasinya, yang nyaris mewarisi kisah kelam keterisolasian kepada generasi berikutnya.

Dalam keterbatasan anggaran yang ada pada khas daerah, kecerdasan seorang SBS ditantang dan diuji. Dan SBS telah mampu menjawab tantangan tersebut.

Pihak ke tiga yang punya niat yang tulus untuk membangun daerah ini dirangkul SBS. Akses jalan untuk membuka isolasi wilayah tertentu diretas, dengan kesepakatan bahwa biaya pekerjaan tersebut dicicil sesuai keuangan daerah.

“Kalau hanya terpaku pada keuangan yang ada, pembangunan infrastruktur kita aka n sangat lamban dan kita akan membiarkan banyak wilayah tetap terisolir”,  kata SBS suatu waktu.

SBS punya mimpi tentang pembangunan infrastruktur jalan, bahwa suatu hari, semua wilayah akan terhubung infrastruktur jalannya dengan Betun, pusat pemerintahan dan pusat perekonomian Kabupaten Malaka.

Seorang ibu berkata kepada anaknya, “Nak, ini ada sebutir telur. Telur ini akan kita titipkan ke sangkar ayam tetangga supaya dierami dan ditetas. Telur ini akan jadi ayam. Ayam itu akan kita pelihara sampai bertelur dan menetas, melahirkan anak-anak ayam.

Anak-anak ayam itu akan jadi besar dan terus berkembang biak. Kalau sudah banyak, ayam-ayam itu akan kita jual, lalu kita belikan seekor sapi. Sapi itu akan kita pelihara dan akan berkembang jadi banyak sapi, lalu kita menjadi kaya.

Saking asyiknya bercerita, ketika menyebut kata kaya, ibu itu mengayunkan tangannya. Alhasil, telur ditangannya jatuh dan pecah. Itu penggalan petuah yang diceritakan turun-temurun di kalangan masyarakat Persia Kuno.

SBS tahu bahwa seindah apapun mimpi tidak akan lebih dari bunga tidur yang akan segera terbang berhamburan ke alam maya, jika mimpi tersebut tidak dibarengi berpikir cerdas, berkata jujur dan bekerja keras.

Pikiran cerdas, perkataan jujur dan kerja keras seorang SBS kini tampak nyata pada wajah daerah Kabupaten Malaka, termasuk wajah infrastruktur jalannya.

Perlahan namun pasti, Malaka dibawah komando SBS terus meretas akses dari perkampungan menuju pusat desa, desa menuju pusat kecamatan dan kecamatan menuju pusat Kabupaten.

Hingga tahun ke empat SBS mengukir wajah Malaka, akses jalan dari desa menuju pusat kecamatan di 12 kecamatan yang ada, sudah sebagian besar beraspal. Demikian pula akses dari 12 kecamatan yang ada menuju Kota Betun.

Rasanya tidaklah berlebihan jika Tokoh Adat Fukun Laetua Bauna, Ferdinandus Seran menyebut SBS tipe pemimpin yang tidak diragukan lagi dedikasinya bagi rakyat dan masih sangat dibutuhkan untuk mengukir wajah Kabupaten Malaka ini.

Dedikasi tanpa pamrih yang dapat dibaca dalam lekak-lekuk guratan yang membentuk indahnya raut wajah malaka. Raut wajah yang tanpa kenal lelah terus dipoles, dipoles dan dipoles.

Sebab bagi SBS, “Membangun jalan tidak boleh asal jadi. Membangun jalan bukan soal kuantitas tetapi kualitas, sehingga dapat dinikmati sampai ke anak cucu”.*(bersambung)