Berdosakah Kami Karena Manfaatkan Anugerah Yang Kuasa?

oleh -359 views

(Catatan Harian Seorang Jurnalis)
Oleh: John Germanus Seran – Wartawan LikuraiOnline.com

Tangan-tangan terampil Blandina Seuk terus menari, merajut helai demi helai benang, membentuk lembaran utuh ‘tais” (kain tenun) yang indah.

Tanpa lelah tangannya terus meliuk-liuk, menyulam harkat dan martabatnya sebagai wanita Malaka. Sebab bagi dia, wanita Malaka adalah menenun, menenun adalah wanita Malaka.

Warga Desa Weoe, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka itu melepaskan rutinitas ketika salam kami mampir di telinganya.

“Begini sudah hidup kami, pak. Bapak sudah berangkat ke tambak pagi-pagi”, ujar wanita itu ketika tahu kami wartawan.

“Sudah enam bulan ini bapak kerja di tambak. PT (PT. IDK – Investor tambak garam di Malaka, red) yang minta bapak jaga di tambak.

Jadi pagi-pagi sekali bapak sudah berangkat. Nanti sore baru pulang”, wanita itu terus berceritera.

“Dulu bapak kerja di Kalimantan. Saya sendiri dengan anak-anak di sini. Tahun lalu dia pulang.

Karena sedikit tanah kami masuk dalam lahan tambak garam, jadi bapak pulang dan kerja di tambak”, lanjut Blandina.

Wanita itu menghela napas dalam-dalam. Matanya menerawang jauh. Lama. Suasana bisu. Kamipun diam. Membiarkan wanita itu larut dalam alam pikirannya sendiri.

“Hari-hari belakangan ini ada orang yang bilang kami salah karena serahkan tanah kami ke PT. Pak, apakah kami berdosa karena mau manfaatkan tanah kami untuk kehidipan kami? Tanah kami adalah anugerah Tuhan yang Mahakuasa bagi kami. Apakah berdosa kalau kami manfaatkan anugerah itu?”

Wanita itu terus memberondong kami dengan rentetan pertanyaan yang tidak mampu kami jawab. Wanita itupun tentu tidak menuntut jawaban kami.

“Kami sudah kasi tanah kami dengan rela. Tidak ada yang paksa. Karena tanah kami tetap jadi milik kami.

Kami tetap jadi tuan atas tanah kami. Tanah-tanah kami tetap akan kami wariskan kepada anak-anak kami.

Malah sekarang jadi lebih baik. Tanah yang tidak produktif sekarang bisa bermanfaat. Tanah bisa menghasilkan uang, tenaga kami juga dihargai. Apakah ini salah?

Semua orang kasi salah kami. Katanya tanah di pesisir pantai tidak ada tuan. Lalu bagaimana orang-orang kaya yang punya tambak ikan besar-besar di pantai? Kalau kami salah karena punya tanah sedikit di pantai lalu apakah benar mereka yang punya tambak ikan besar?”

Rentetan ceritera dan pertanyaan Blandina sepertinya mencambuk daya nalar kami. Pikiran saya menelusuri lorong-lorong jurnal harian jurnalistik saya.

“Perusahaan sudah beberapa kali melakukan sosialisasi sebelum pembebasan lahan. Perusahaan tidak paksa pemilik lahan.

Malah ada yang sudah serahkan tetapi kemudian berubah pikiran, perusahaan kembalikan”, kata Natalia Seuk Seran, pimpinan cabang PT. IDK Malaka pada suatu hari.

“Kita kontrak 25 tahun dan akan kita buatkan akta notaris sehingga ada ahli warisnya. Tanah kita olah, hasilnya kita bagi untuk pemilik lahan, pemerintah dan investor”, ujar Natalia.

Blandina dan keluarganya, juga puluhan ratusan warga Desa Weoe Desa Weseben dan Desa Rabasa serta beberapa desa lainnya telah dengan rela mempercayakan tanahnya kepada Investor untuk dikelolah menjadi tambak garam industri.

“Masyarakat punya tanah, investor punya uang, Pemerintah siapkan regulasinya. Masyarakat tidak menjual tanahnya, tetapi tetap memilikinya sebagai saham”, kata Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH suatu ketika.

Bupati Malaka sebagai pimpinan Pemerintahan di Kabupaten Malaka ini punya konsep cerdas. Bahwa semua lahan yang ada harus dioptimalkan.

Kalau rakyat tidak punya modal, pemerintah datangkan investor untuk kelolah. Yang penting, prinsipnya jelas, bahwa rakyat harus tetap jadi tuan atas tanahnya.

Konsep cerdas Bupati Malaka ini menuai pujian dari pimpinan Gereja Katolik ketika berkunjung ke lahan tambak garam industri di Desa Weseben, Kecamatan Wewiku.

“Saya puji kamu karena kamu tidak jual tanah. Karena jual tanah sama dengan jual masa depan. Tanah itu anugerah Tuhan yang harus diwariskan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya”, kata para Pastor ketika itu.

Tanah adalah anugerah in potensia. Begitu kata para cerdik pandai. Artinya anugerah tersebut masih dalam potensi dan perlu dioptimalkan oleh manusia sehingga sungguh-sungguh menjadi anugerah bagi kehidupan.

Berdosakah orang yang mengoptimalkan potensi yang dianugerahkan Tuhan kepadanya? Bukankah berdosa jika manusia mendiamkan potensi yang dianugerahkan Tuhan kepadanya? Mari berefleksi.*