Antara Malaka Dan Kulon Progo;  Solusi Cerdas SBS Mengukir Wajah Malaka Di Bidang Kesehatan

oleh -411 views

(Catatan Harian Seorang Jurnalis)
Oleh: John Germanus Seran – wartawan likuraionline.com

Apakah yang dilihat itu bagus?  Apakah kamu suka yang bagus itu?  Apakah kamu mau jadi bagus seperti itu?

Tiga pertanyaan itu yang kami bawa dalam bagasi kami ketika berangkat dari Malaka ke Kulon Progo. Tiga pertanyaan yang dititipkan sang arsitek dunia kesehatan Nusa Tenggara Timur yang telah mencetuskan program-program melegenda di dunia kesehatan provinsi ini,  semisal Revolusi Kesehatan Ibu dan Anak (Revo KIA).

Sang arsitek telah membekali kami untuk tidak malu belajar. Belajar dari kekurangan supaya bisa menyempurnakan dan belajar dari kelebihan orang lain untuk ditiru.

Maka lahirlah ide briliant Penguatan Kapasitas Berbasis Kinerja Program Manajemen dan Kepemimpinan/ Performace Management and Leadership (PML),  melalui sistem sisterhood antara Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka dan puskesmasnya dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dan puskesmasnya.

Menarik dalam hal ini adalah unsur sisterhood yang ditonjolkan. Kenapa bukan brotherhood? Kata sisterhood mengandung makna feminin yang cenderung lemah lembut dan ramah, disiplin dan rapih.

SBS tidak cangung menjalin kerjasama dengan saudari lain yang lebih dahulu sukses. “Kami tidak malu belajar dari orang lain,  kalau orang lain itu lebih baik”,  kata SBS suatu waktu.

Kerja sama dengan Kabupaten Kulon Progo pun dibangun, dengan sistem: yang sudah maju mendampingi yang belum maju. Dinkes Kulon Progo yang terbaik dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas mendampingi Dinkes Malaka dan puskesmasnya.

Sejak tahun 2017,  Dinkes Malaka dan puskesmasnya ‘berguru’ lada Dinkes Kulon Progo dan puskesmasnya. Tanpa canggung.  Tanpa rasa minder.  Tentu,  tidak terlepas dari motivasi luhur sang arsitek: Tidak ada kata malu untuk belajar.

Hasilnya tidak jelek.  16 puskesmas yang sudah menimba wawasan di Kulon Progo telah terakreditasi. Artinya apa?  16 puskesmas  tersebut telah berhasil memindahkan hal baik pelayanan kesehatan di Kulon Progo ke Malaka.

Tentu tidak bisa seratus persen karena lain lubuk lain linggau,  lain padang lain belalang. Lain Jawa lain Timor,  lain Kulon Progo lain juga Malaka.

Sarana dan prasarana kami di Malaka tentu tidak sebanding dengan yang dimiliki puskesmas di Kulon Progo.  SDM kamilun tentu kalah dalam kuantitas,  tapi kualitas kami bisa bicara. Nyatanya kami tidak malu belajar.

Kali ini empat puskesmas belajar lagi. Di Kulon Progo, saudari yang baik hati kami belajar. Babu,  Bani-Bani,  Alkani dan Oekmurak ingin melihat yang bagus di Kon Progo. Melihat,  mengagumi dan mencontohi.

“Kami datang bawa kertas putih untuk mencatat yang kami lihat dan kagumi. Kami bawa wadah kosong untuk mengisi ilmu dan wawasan yang bagus,  yang akan kami bawa pulang ke Malaka”,  kata Benigno Lopes,  ujung tombak Puskesmas Babulu.

“Kami punya 7 saja, di sini 9. Kami cari tahu penyebabnya apa dan apa yang harus kami lakukan supaya bisa tingkatkan nilai”, ungkap dokter muda Oekmurak, Sendy Perdana.

“Ternyata hal sederhana juga bisa dijadikan istimewa, seperti kaleng bekas cat disulap menjadi kotak sampah yang cantik”, kagum sang pimpinan Puskesmas Alkani, Fransiskus Klau.

“Semua ini sudah kami kemas di dalam begasi hati dan pikiran kami. Akan kami bawa pulang ke Alkani, Babulu, Oekmurak dan Bani-Bani. Bukan untuk nama besar kami, tapi untuk rakyat Malaka. Seperti pesan Bapak Bupati, urus kesehatan itu jangan main-main”, kata Krisna, dokter muda Puskesmas Bani-Bani.

Ya, kami tidak akan main-main urus kesehatan. Seperti yang dilakukan sang SBS ketika membebaskan biaya pelayanan kesehatan bagi rakyat Malaka. Ini bukti keseriusan seorang arsitek unggul yang sudah dan sedang memoles, memperindah dan mempercantik wajah dunia kesehatan di Malaka.

Apa artinya indah? Apa artinya cantik? Murah tapi tidak murahan. Gratis tapi berkualitas. Dan indah dan cantik itu terselip antara Jawa dan Timor, antara Yogyakarta dan NTT, antara Kulon Progo.*(Kulon Progo, 17/05/2019)