Dari Pulau Dewata, Emas Putih Malaka Memanggilku Pulang

oleh -607 views

(Catatan Harian Seorang Jurnalis)

“Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri”. Pepatah ini yang mengusik kenyamanan saya bekerja di negeri Para Dewa – Pulau Dewata, Bali.

Saya mengadu nasib di Pulau Dewata sebagai tenaga satuan pengaman (Satpam) untuk menghidupi keluarga di kampung halaman.

Saya cukup betah bekerja selama enam belas tahun di sana, walaupun penghasilan saya hanya cukup untuk membuat asap dapur keluarga tetap mengepul.

Saya cukup nyaman bekerja di sana. Tetapi kenyamanan itu ada batasnya. Semua hal baik yang kita inginkan di negeri orang itu bisa kita dapat, asal ada uang.

Tetapi ada hal lain yang tidak bisa kita dapat di sana, yakni kedekatan dengan keluarga.

Kita tinggal terpisah jauh dari keluarga. Waktu saya sakit, saya bisa masuk rumah sakit internasional, tetapi tidak ada keluarga yang tungguin. Kita tidak bisa beli keluarga dengan uang.

Waktu mama saya sakit di kampung, saya hanya bisa menangis dari tanah orang. Kita orang Malaka ini sangat kental dengan adat dan kekerabatan. Selama enam belas tahun, saya merasa asing karena tidak bisa gabung dalam urusan keluarga besar.

Hal-hal ini yang kemudian mengusik kenyamanan saya menjual keringat di rantauan. Saya lalu berpikir, lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang.

Saya putuskan untuk kembali ke kampung halaman. Hanya berbekal sertifikat pelatihan Satpam dari kepolisian, akhirnya saya pulang. Itu terjadi kira-kira dua tahun lalu, ketika PT. Inti Daya Kencana mulai membersihkan lahan di pesisir Wemean, Desa Rabasa, Kecamatan Malaka Barat untuk tambak garam industri.

Dengan bekal sertifikat Satpam yang saya kantongi dari perantauan, saya pun diterima bekerja.

Jasa saya dihargai sama dengan ketika saya masih diperantauan. Tetapi kehidupan saya dan keluarga jadi lebih baik.

Ketika diperantauan, saya bekerja untuk dua dapur karena saya tinggal terpisah dari keluarga.

Di sini saya tidak harus bayar kos lagi. Dan lebih dari itu, saya jadi merasa lebih dekat dengan keluarga besar karena saya sering terlibat dalam acara-acara keluaga.

Saat ini, saya dan 32 warga Desa Rabasa lainnya menjadi karyawan pada PT. Inti Daya Kencana.

Kami senang bisa kerja di daerah sendiri, dekat dengan keluarga dan ikut ambil bagian dalam membangun daerah kami sendiri.

Hak-hak kami sebagai pekerja dihargai dengan pantas dan tepat pada waktunya.

Kami diikutsertakan dalam jaminan sosial ketenagakerjaan (Jamsostek), jadi perlindungan keselamatan kerja kami jelas. Ada jaminan kesehatan dan jaminan hari tua.

Beberapa bulan belakangan ini saya dengar banyak komentar bahwa tambak garam ini tidak baik. Ada yang bilang PT. IDK serobot tanah rakyat. Ada lagi yang bilang PT. IDK merusak hutan mangrove.

Kami hanya berharap, saudara-saudara kami orang Malaka yang saat ini sedang di perantauan tidak usah buat komentar miring tanpa melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Karena kami di sini baik-baik saja. Yang biasa dikomentari itu tidak benar. Tolong jangan menyusahkan kami.

Buat suadara-saudara kami yang bukan orang Malaka, kenapa kalian ribut ketika kami mau membangun diri dan daerah kami?

Tanah ini milik kami, tenaga-tenaga yang bekerja juga milik kami. Apa urusanmu? Apa kami bawa tanah dari daerahmu atau kami peras tenagamu?

Kami yang hidup di sini dan tahu baik apa yang ada di sini. Mangrove, katamu? Tidak akan ada orang pesisir yang percaya bahwa mangrove tumbuh di tanah kering.

Saya sudah ada bersama PT. IDK sejak awal. Tanah-tanah ini dulunya tambak ikan warga yang diolah secara tradisional, sehingga hasilnya tidak mencukupi kebutuhan.

Ada lagi kebun warga yang sudah tidak produktif. Semua itu yang kemudian dipercayakan dengan rela oleh pemiliknya kepada PT. IDK untuk dioptimalkan.

Oya, nama saya Fransiskus Nahak, warga Desa Rabasa, Kecamatan Malaka Barat. Saat ini, saya bekerja sebagai Security di lahan tambak garam yang dikelolah PT. IDK di Desa Rabasa.

Saya dan 32 teman warga Rabasa lainnya dipekerjakan PT. IDK sebagai tenaga security, tenaga perawatan mesin pendukung, tenaga perawatan kolam, tenaga sipil dan admin kantor.

Upah pokok kami Satu Juta Delapan Ratus Tujuh Puluh Rupiah, masih ditambah uang makan dan lembur. Rata-rata kami terima di atas Dua Juta Rupiah tiap bulan.

Sejauh yang kami tahu, selain kami, saudara-saudara kami di Desa Weoe dan Desa Weseben juga dipekerjakan PT. IDK di lahan tambak garam di desa mereka sendiri. Saya rasa, pasti mereka merasakan apa yang kami rasakan di Rabasa.

Bahwa kami sudah bisa mengalami hujan emas di negeri kami sendiri. Bahwa emas putih dari Malaka telah memanggil kami yang di rantauan untuk kembali ke kampung halaman.

Bahwa kami tidak harus pergi lagi jauh-jauh dari keluarga supaya asap dapur tetap mengepul.*(dikisahkan kepada John Germanus Seran – Wartawan LikuraiOnline.com)