Bupati Malaka Buka Kegiatan Rembuk Stunting Tahun 2020

oleh -241 views

Betun, LikuraiOnline.com — Seluruh elemen masyarakat dan pemerintah diajak untuk bahu-membahu memerangi stunting. Upaya memerangi stunting tersebut harus dilaksanakan secara bersama – sama, antara masyarakat dan pemerintah dan agama .

Hal tersebut disampaikan Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH (SBS) usai membuka kegiatan Rembuk Stunting Tahun 2020 di Aula Kantor Bupati Malaka, Kamis (25/06/2020).

Menurut Bupati SBS, salah satu alasan mengapa stunting masih tinggi di Kabupaten Malaka adalah karena pola asuh anak yang kurang bagus.

Padahal, baik atau tidaknya pertumbuhan anak juga ditentukan oleh masa awal pertumbuhannya. Misalnya, sejak seorang bayi lahir, enam bulan pertama harus diberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif.

Namun, yang kerap terjadi di Malaka, anak-anak kita hampir tidak pernah menikmati ASI Eksklusif karena ditiinggal kerja oleh ibunya setelah anak lahir.

“Waktu bayi lahir enam bulan berjalan ibunya  pergi kerja sehingga bayi dititip pada neneknya. Karena itu jelas Stunting tinggi. Soal makanan sangat layak dikonsumsi karena daerah Malaka cukup subur”, ujar Bupati SBS.

Bupati SBS juga mengungkapkan, kesulitan lain yang dialami pemerintah adalah kendala administrasi. Ada pasutri yang sudah punya anak tetapi belum menikah dan masih tinggal menumpang dengan orangtuanya. Dalam situasi ini, pemerintah mengalami kesulitan untuk mengintervensi.

“Ada pasutri yang belum menikah tetapi masi tinggal bersama orang tua. Bagaimana pemerintah bantu kalau administrasi kependudukan belum punya. Pemerintah buat program dengan bantuan maka harus ada kartu penduduk sah,” jelas SBS.

Karena itu, Bupati SBS berharap, dari rembuk stunting ini, para elemen terkait dapat menerima masukan dari tim provinsi sehingga menjadi agen di masyarakat.

“Para tokoh agama, para camat, dan pejabat sektor terkait menjadi agen untuk  sosialisasikan ke warga. Saya yakin dengan kerjasama semua elemen, stunting yang masih tinggi di Malaka bisa ditekan seminimal mungkin”, demikian Bupati SBS.

Sebelumnya, dalam kesempatan yang sama, Pejabat Fungsional Perencana Madya pada Bapeda NTT, Vince B Panggula, SKM, yang hadir mewakili Kepala Bapeda NTT dalam kegiatan Rembuk Stunting tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Malaka bersama elemen terkait untuk “keroyok” bersama menekan persoalan stunting.

Khusus di Malaka, angka stunting masih cukup tinggi dan berada pada urutan ke 11 dari seluruh kabupaten/kota di NTT. Diharapkan pada tahun 2021 posisi ini harus bergeser ke urutan dibawa 10.

Menurut Vince, persoalan stunting ini memang menjadi perhatian serius Gubernur NTT yang ditunjukan dengan pembentukan Pokja Penanganan Stunting tingkat Provinsi NTT. Dalam setiap kesempatan, gubernur selalu mendorong semua elemen untuk bekerja “keroyokan” menekan seminimal mungkin stunting ini.

‘Kami dari Pokja Provinsi akan dampingi. Dalam rembuk stunting ini diharapkan semua elemen bekerja bersama-sama. Ada dana desa diharapkan para kepala desa bisa mengalokasikan untuk penanganan stunting”, ujar dia.

Vince menambahkan, stunting ini bisa dicegah karena permasalahan mendasarnya ada pada  gagal tumbuh pada anak balita karena asupan gizi yang kurang dan masalah kesehatan lingkungan keluarga.

“Dari Hasil penelitian menunjukan  jamban keluarga bersih dan kebutuhan air minum bersih tersedia  maka kecil kemungkinan terkena stunting. Kondisi terkena stunting bisa karena ancaman rawan pangan, tingkat pengetahuan orangtua yang rendah dan rendahnya kemampuan daya beli,” ujar Vince.

Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan, usia balita antara 6-10 bulan rawan terkena stunting. Untuk itu disarankan agar selama enam bulan pasca kelahiran, balita harus diberi ASI eksklusif.

“Anak enam bulan harus diberi ASI karena umur 6-10 bulan rawan stunting. Selain itu para orangtua yang perokok diharapkan berhenti merokok karena 5,5 persen menyumbang stunting,” tambahnya.

Kegiatan yang dibuka Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH ini dihadiri Ketua Pokja Penanganan Stunting Provinsi NTT, Sarah Lery Mboeik, dihadiri juga Kepala Bapeda Malaka, Remigius Asa, para camat, kepala desa, tokoh agama, tokoh perempuan, pegiat LSM, kalangan media dan instansi terkait lainnya.*(JoGer)