Yuliana: Biarlah Kami Terus Menyanyikan Lagu Itu

oleh -1.231 views

Wanita itu bergabung dengan mobil yang kami tumpangi dalam perjalan dari Besikama, Kota Kecamatan Malaka Barat menuju Betun, Kota Kabupaten Malaka.

“Ini seperti lagu naik-naik ke puncak gunung”, ujar Yuliana, demikian nama wanita warga Desa Maktihan, Kecamatan Malaka Barat itu.

Semua mata kami tertuju pada wanita itu. Semua mata penuh harap, menantikan kelanjutan kisah wanita hitam manis ini. Dan Yuliana tahu apa yang sedang kami pikirkan.

“Naik, naik ke puncak ginung, tinggi, tinggi sekali. Kiri, kanan, kulihat jauh, banyak pohon cemara”, begitu wanita itu menyanyikan lagu kanak-kanak yang tentu sudah tidak asing bagi telinga kami semua.

Lalu, apa maksud wanita itu menyanyikan lagu gubahan Ibu Sud yang legendaris itu? Apa maksud wanita Malaka itu ketika berkata, Ini seperti lagu naik-naik ke puncak gunung?

Mungkin maksud Yuliana mendendangkan lagu itu untuk menjawab harapan dan rasa heran kami. Tetapi justru lagu itu malah menambah rasa heran kami dan melahirkan sebuah teka-teki yang semakin membuat kami penasaran.

Yuliana memperbaiki posisi duduknya. Matanya lalu menoleh ke luar jendela mobil. Dan tentu, tanpa dikomando, semua mata kami mengikuti arah mata wanita itu.

“Kiri dan kanan yang terlihat hanya hamparan padi yang dijemur warga di halaman rumah hingga bahu jalan”, ujar Yuliana sambil melemparkan senyum ke arah kami berempat bergantian. Senyuman amat manis yang memaksa siapapun yang meluhatnya untuk mengaku, “Tiada senyuman yang lebih manis dari senyum wanita Malaka”.

“Kami senang, kakak. Tidak ada hal lain yang bisa buat kami petani bisa tersenyum lebar selain hasil panen yang baik.

Tahun demi tahun, bertani jadi semakin mudah dan murah. Alat pengolah tanah dibantu pemerintah sehingga semua lahan yang ada bisa kami olah. Bibit, pupuk dan obat-obatan anti hama juga disiapkan.

Istilahnya sekarang, cukup punya tanah dan mau bekerja saja sudah bisa jadi petani yang bisa mencukupi kehidupan kami sendiri dari bertani”, ceritera Yuliana.

Kami terkesima mendengarkan penuturan wanita itu. Kata demi kata dilafalkan dengan jelas dan perlahan, seolah mau membiarkan kata demi kata merasuki nalar dan sanubari kami.

“Kami orang kecil ini hanya butuh itu. Kami senang karena Pemerintah kami mau perhatikan apa yang kami butuhkan. Sederhana saja. Kami orang tani, tentu kami senang pemerintah yang perhatikan petani.

Kami tidak bilang kalau kami mau supaya pemerintah urus kami petani saja. Tetapi pemerintah yang memberikan perhatian pada kami, kami sangat senang dan sungguh merasa bagian dari daerah ini”, lanjut Yuliana.

Mobil kami terus melaju menelusuri jalan ysng kirri kananya berjejal hamparan terpal dengan gabah yang dijemur di atasnya. Pemandangan ini tersaji sepanjang Desa Maktihan, Desa Naas, Desa Motaulun di Kecamatan Malaka Barat hingga Desa Kleseleon di Kecamatan Weliman.

Kata demi kata yang keluar dari bibir manis Yuliana membawa saya pada perkataan seorang SBS, Bupati Malaka yang memiliki visi brilian yang dituangkan dalam program unggulan Revolusi Pertanian Malaka pada suatu ketika.

“Saya terharu karena bahagia ketika lewat di jalan dan melihat warga menjemur padi di halaman hingga ke bahu jalan”, kata SBS ketika itu.

Pengalaman SBS ini kiranya tidak jauh berbeda dengan pengalaman Yuliana, wanita petani Malaka itu ketika menyanyikan lagu, “Naik, Naik Ke Puncak Gunung”. Jika SBS terharu karena bahagia, Yuliana bersenandung karena rasa yang sama.

Kamipun berpisah dengan Yuliana ketika mobil yang kami tumpangi tiba di Kota Betun. Hilir-mudik dan hingar-bingar warga Kota Betun kini memisahkan kami dari pengalaman bersama kisah bahagia Yuliana.

Tetapi harapan dan doa wanita Malaka itu tetap akan tergores dan membekas dalam memori dan catatan harian kami, “Biarlah kami terus menyanyikan lagu itu”.*(catatan harian jurnalis LikuraiOnline.com – john germanus)