Warga Wewiku Ini Kembangkan Sistem Pertanian Terpadu Sebagai Bentuk Dukungan Terhadap Program Unggulan Pemkab Malaka

oleh -1.382 views

Betun, LikuraiOnline.com —- Wilibrodus menghamburkan pakan dalam genggamannya dan segera disambar ikan-ikan Nila di kolam berukuran 40X60 Meter tersebut.

Wilibrodus bersiul riang sambil sesekali melemparkan senyum ke arah wartawan yang terkagum-kagum melihat pemandangan tidak biasa sore itu.

Dari kolam Nila, kami berlindah ke kolam Bawal, kemudian Lele dan Bandeng. Keseluruhannya terdapat 32 kolam dalam hamparan seluas 4 hektar tersebut.

Di antara setiap kolam ditanami aneka jenis pisang. Rumpun-rumpun pisang pun tampak memgitari lahan tersebut.

“Ini satu bentuk hiburan. Memandang ikan-ikan yang berebutan makanan adalah suatu kepuasan batin tersendiri, setelah berkutat dengan tanggung jawab sebagai pendidik di Sekolah”, ujarnya.

Wilibrodus Klau, Warga Desa Lamea, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka memang seorang ASN yang sehari-harinya mengabdi sebagai guru di SDI Weakar, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka.

Namun, diselah rutinitasnya sebagai seorang abdi negara, Wilibrodus membangun sebuah konsep bertani yang patut diapresiasi.

Wilibrodus mengembangkan sistem pertanian terpadu, yakni sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan dan perikanan  dalam satu lahan, sehingga diharapkan dapat sebagai salah satu solusi bagi peningkatan produktivitas lahan.

Setelah puas bermain-main dengan ikan, wartawan diajak Wilibrodus menuju tiga gubuk di sudut lahan. Ternyata gubuk tersebut adalah perteduhan bagi ternak babi, baik babi jenis pedaging maupun jenis lokal.

Untuk mencapai gubuk-gubuk kandang babi tersebut, kami harus melewati satu hamparan yang ditanami cabe. Buah-buah cabe yang mulai memerah menambah indahnya panorama sore ini.

“Kita bosa lakukan banyak cara untuk mendukung program pemerintah, termasuk memanfaatkan potensi lahan yang dimiliki untuk mendukung Revolusi Pertanian Malaka”, ujar Wilibrodus.

Setelah puas menimba pengalaman dari sistem pertanian terladu yang dikembangkan guru sekolah dasar ini, kamipun pulang. Tetapi kami masih mampir di satu hamparan lain yang ditanami singkong dan pisang.

“Singkong dan pisang ini yang kita manfaatkan sebagai pakan ternak babi. Jadi tidak semua hasilnya kita jual langsung ke pasaran”, tandas Wilibrodus.

Wilibrodus mengaku, dirinya masih memiliki lahan lain yang saat ini sitanami tanaman umur panjang saja karena kekurangan modal untuk mengolahnya.

Karena itu Wilibrodus sudah menyampaikan permohonan ke Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Malaka untuk mendapatkan fasilitas pengolahan tanah.

‘Karena jati yang ada sudah bisa dipotong, maka saya sudah ajukan permohonan ke dinas supaya dibantu olah tanah”, pungkas dia.

Kepala Dinas TPHP Kabupaten Malaka, Ir. Yustinus Nahak, M.Si yang dikonfirmasi melalui sanbungan telepon selular membenarkan hal itu.

Memurut Yustinus, permohonan tersebut akan segera dieksekusi dalam waktu dekat ini.*(john gernanus)