Tujuh Tahun Merantau, Antonius Pulang Kampung Karena RPM. Ternyata Ini Yang Dia temukan Di Malaka!

oleh -1.685 views

Betun, LikuraiOnline.com — Setelah tujuh tahun mengadu nasib di tanah rantau, Antonius akhirnya memboyong kembali keluarganya ke Malaka setelah mendengar banyak ceritera tentang Revolusi Pertanian Malaka (RPM).

Dari ceritera yang sampai ke telinga Antonius dan keluarganya, RPM adalah salah satu program unggulan yang diusung Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH dalam memimpin daerah ini.

Antonius yang ditemui wartawan di kebun miliknya di Desa Rabasa Biris, Kecamatan Wewiku, Sabtu (11/05/2019) menceriterakan, ketika di perantauan itulah dirinya mendengar ceritera bahwa di Malaka ada program balik tanah gratis dan penyediaan bibit, pupuk serta obatan gratis oleh pemerintah.

“Begitu dengar ceritera itu, saya langsung telepon ke saudara di Malaka untuk tanya-tanya tentang kebenaran cerita itu.

Kemudian, saya dan keluarga putuskan untuk kembali ke Malaka, dengan harapan bisa mendapatkan kemudahan dari pemerintah supaya kami bisa maksimalkan lahan kebun yang ada”, ungkap warga Desa Weoe ini.

Setelah di Malaka, Antonius akhirnya bisa membuktikan sendiri kebenaran ceritera yang ia dengar dari ceritera orang lain.

Dua bidang tanah milik keluarganya, masing-masing berukuran 4. 800 Meter persegi dan 6000 Meter persegi diolah dengan traktor RPM.

Antonius akhirnya memilih untuk budi daya singkong di lahan yang berukuran kecil dan budi daya pisang kapok di lahan lainnya.

Sudah dua tahun ini Antonius menggarap dua lahan tersebut dan sudah menikmati hasil jeri payahnya sendiri, juga buah manis dari program RPM yang sudah membawanya pulang dari perantaun.

“Komoditas ubi kayu ini memang sangat mudah perawatannya, tidak ada penykitnya dan tidak ada istilah buru-buru dijual karena takut busuk. Pasarannya juga bagus.

Tahun lalu, ubi di kebun saya diborong pengusaha kripik singkong dari Betun dengan harga 25 Juta Rupiah.

Yang sekarang, walau belum panen, pengusaha yang sama sudah membelinya dengan harga 30 Juta Rupiah”,  ungkap Antonius.

Antonius mengaku senang, karena program RPM yang dijalankan Bupati SBS sudah memfasilitasi mereka untuk mengolah lahan mereka. Bagi mereka, perhatian Pemerintah Kabupaten Malaka ini sudah lebih dari cukup.

“Kita punya tanah tapi tidak punya uang untuk olah. Kalau olah pakai tenaga saja hasilnya tidak cukup untuk makan.

Sekarang, pemerintah sudah bantu kita untuk olah lahan,  apalagi yang kita pikirkan?

Kita hanya tanam dan rawat.  Pemerintah yang olah tanah, kasi kita bibit,  kasi kita pupuk, kasi kita obat dan kasi kita orang pintar supaya bisa ajar kita dan hasilnya semua untuk kita. Tapi kita masih teriak bilang kurang”,  ujar Antonius.

Antonius menambahkan, mayoritas warga Malaka yang bekerja di luar daerah, termasuk dirinya adalah petani upahan di kebun. Di sana mereka kerja sepanjang hari di kebun.

“Saya heran, karena orang-orang kita mengeluh bilang tidak ada lapangan kerja di Malaka lalu pergi ke daerah orang untuk kerja di Kebun. Apakah di Malaka tidak ada kebun?”,  ujar Antonius.

Antonius mengaku, selama tujuh tahun dirinya bersama isteri dan dua anaknya bekerja sebagai petani upahan di daerah orang, mereka tidak mengumpulkan uang sampai puluhan juta.

“Selama tujuh tahun kerja di luar tidak pernah lihat uang begini, padahal empat orang kerja semua.

Tetapi baru dua tahun pulang ke Malaka, kita sudah bisa punya uang sampai puluhan juta”,  tambahnya.

Antonius berharap, Bupati SBS tetap melanjutkan program RPM sebagai program unggulan di Malaka.

Ia mengaku, dirinya sudah sering menceriterakan kisah suksesnya bersama RPM kepada kerabat dan kenalannya di perantauan, dengan harapan bisa menarik mereka supaya kembali ke kampung halaman.

“Bekerja di luar itu banyak tidak baiknya. Kita hanya senang karena tiap bulan dapat upah, tapi tidak sadar bahwa upah kerja sebulan itu habis dalam beberapa hari saja. Tinggal terpisah dari keluarga juga tidak baik, kalau misalnya kita sakit.

Karena itu, kalau telepon sama kerabat atau kenalan yang masih ada di sana, saya selalu ajak mereka untuk pulang.

Saya.selalu bilang ke mereka, bahwa kerja kebun di Malaka sekarang sudah beda dengan tempo dulu”,  pungkasnya.*(john germanus)