Tim Pakar RPM Ungkap 3 Keuntungan Pola Tanam Bawang Merah Relay Intercroping

oleh -1.009 views

Betun, LikuraiOnline.com —– Tim Pakar Revolusi Malaka (RPM) memperkenalkan dan coba menerapkan Pola Tanam Bawang Merah Relay Intercroping di lahan milik warga Desa Lasaen, Kecamatan Malaka Barat.

Pola tanam tersebut dinilai memiliki beberapa keunggulan, yang sekaligus mendatangkan keuntungan yang besar bagi petani yang menerapkan pola tanam tersebut.

Ketua Tim Pakar RPM, Dr. Herry Kotta bersama rekan-rekannya mengungkapkan hal itu kepada wartawan di selah kegiatan Panen Simbolis Bawang Merah Program RPM di Desa Lasaen, Rabu (02/10/2019).

“Setelah umur bawang merah mencapai satu setengah bulan, ditanam jagung di parit bedengan dengan pola tanam 1 lubang satu biji”, jelas Dr. Herry tentang pola tanam relay intercroping tersebut.

Penerapan pola tanam tersebut, menurut Dr. Herry dan rekan-rekannya, untuk menjawab keluhan dari masyarakat petani, bahwa kalau hanya tanam bawang saja, maka kalau harga bawang anjlok, petani mengalami kerugian.

“Karena itu, kita terapkan cara tanam relay intercroping ini. Dan ternyata, luar biasa hasilnya”, ungkap Dr. Herry.

Tim Pakar RPM juga mengungkapkan kurang lebih 3 keuntungan dari pola tanam relay intercroping. Keuntungan pertama adalah optimalisasi lahan. Artinya, setiap jengkal lahan yang ada dimanfaatkan untuk beberapa komoditas sekalian.

Keuntungan ke dua, ketika kita tanam bawang dan jagung sekaligus, maka kita menekan atau mengurangi evaporasi atau penguapan.

Keuntungan ke Tiga, ketika kita tanam bawang dan jagung sekaligus, kita memutuskan hama penyakit bawang. Bawang kalau ditanam terus-menerus, hama penyakit akan tetap bertahan. Tetapi akan putus dengan tanaman lain.

Pola tanam Relay Intercroping tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Malaka sekaligus penggagas RPM, dr. Stefanus Bria Seran, MPH (SBS) dan Anggota DPRD, yang juga Kandidat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malaka, Hendrikus Fahik Taek.

“Saya senang karena di lahan ini diterapkan pola tanam yang baru, yaitu, setelah bawang berusia 1 setengah bulan, diikuti dengan tanam jagung. Tadi saya terkecoh. Waktu datang, saya bertanya dalam hati, bawangnya di mana? Setelah dekat baru saya dapat jawabannya, ternya bawangnya terbungkus oleh jagung. Dan setelah di panen, hasilnya luar biasa, bisa mencapai 11,1 Ton per Hektar”, ungkap Bupati Malaka.

Sementara, Hendrikus Fahik Taek mengungkapkan, dirinya mengaku kagum dengan pola tanam yang sangat inovatif, dimana dalam satu lahan bisa ditanam dua komoditi sekaligus dalam waktu bersamaan.*(john germanus)