Simon Berdendang Di Pematang Sawah

oleh -1.116 views

Betun, LikuraiOnline.com —- Lelaki paruh baya itu hilir mudik di atas pematang sawah. Sekali-sekali kedua tangannya bergerak menghalau, disusul teriakan mengusir. Simon, nama pria itu sedang menjaga padi dari serangan burung-burung pipit.

Areal persawan di Desa Rabasa Haerain, Kecamatan Malaka Barat dan sekitarnya memang sedang menguning.

Sejauh mata memandang, hanyalah bulir-bulir kuning keemasan meliuk-liuk bersama hembusan angin.

Dan para petani, tentu sangat disibukkan oleh manuver gerombolan burung pipit yang ingin mengambil bagian untuk menikmati karunia Sang Pencipta.

“Oras loro malirin, oras loro malirin bete lao ba lao mai…. Bete basa liman ba mai, atu nodi dakar hare tasak…” (Ketika sore hari tiba, sang gadis berjalan kian kemari, sambil menjaga padi yang memguning, red).

Penggalan bait lagu tebe itu kadang meluncur dari bibir Simon. Lagu dalam nada riang yang tak lain adalah nada suka cita.

Simon bersuka cita. Begitu juga para petani lain, pemilik puluhan hektar sawah yang menguning dan siap dipanen.

“Di awal musim tanam pertama, lahan di sekitar sini kering. Pasokan air tidak ada sama sekali.

Sudah hampir putus asa. Tetapi akhirnya air datang juga. Dan dengan asa tersisa, kita beranikan diri untuk olah tanah dan tanam”, ujar Simon kepada juru berita yang menemuinya di areal persawahan Desa Rabasa Haerain, (26/06/2019).

Simon sedikit berlari menuju gerombolan burung pipit yang memenuhi batang-batang padi. Burung-burung kecil itupun terbang menjauh sambil mencicit sahut-menyahut.

“Walau kita tanam agak terlambat, tapi hasilnya tetap lumayan. Ini bukti bahwa tanah Malaka ini tanah yang sangat subur”, lanjut Simon.

Simon menyesalkan masih banyak lahan di lokasi tersebut tidak diolah tahun ini. Padahal, menurut warga Desa Rabasahain itu, pasokan air melalui saluran irigasi Bendungan Benenain berlimpah.

“Saya tidak tahu persis kenapa banyak lahan tidak diolah tahun ini. Tetapi sangat disayangan, karena air cukup. Pemerintah siapkan alat untuk olah, ada bantuan benih dan pupuk juga. Kalau tidak dimanfaatkan, masyarakat sendiri yang salah”, tandas Simon.

Bagi Simon, Pemerintah siapkan semua itu untuk masyarakat supaya semua lahan masyarakat bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraannya. Masyarakat hanya perlu kerja dengan memanfaatkan semua potensi yang ada.

Revolusi Pertanian Malaka (RPM), menurut Simon, adalah program pro rakyat yang sangat baik. “Kalau ada yang katakan program itu tidak baik, maka pantas dicurigai kalau orang itu tidak senang lihat rakyat hidup sejahtera”, tegasnya mantap.

Perjalanan kami pagi itu berlanjut, meninggalkan Simon yang terus bersiul, sambil sesekali berdendang: “Oras loro malirin, oras loro malirin bete lao ba lao mai…. Bete basa liman ba mai, atu nodi dakar hare tasak…”.*(john germanus)