SBS Dan Konsep Pembangunan Total Untuk Rakyat

oleh -1.489 views

(Catatan Harian Seorang Jurnalis)

John Germanus Seran — Wartawan LikuraiOnline.com

Dalam sebuah obrolan lepas dengan seorang teman yang berkunjung ke Malaka dua tahun lalu, teman itu bertanya kepada saya, “Apa konsep pembangunan yang diterapkan Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH (SBS) di Kabupaten Malaka?” Bagaimana seorang SBS menerjemahkan lima program unggulannya untuk mensejahterakan rakyat Malaka?”

Obrolan itu menjadi begitu rileks ketika saya coba menjawab setiap pertanyaannya berdasarkan kebijakan-kebijakan SBS berkaitan dengan Panca Program unggulan.

Mulai dari Revolusi Pertanian Malaka, Peningkatan Pendidikan Dasar, Peningkatan Pelayanan Kesehatan Dasar, Peningkatan Infrastruktur hingga Penyediaan Air Bersih.

Teman itu puas dengan jawaban saya. Ini terbaca jelas pada raut wajah dan ekspresi tubuhnya. Diskusi itupun berakhir dengan perpisahan kami ketika malam perlahan menemui pagi di Kota Betun.

Tetapi pertanyaan teman saya tadi tetap terngiang di telinga dan relung hati saya, apa konsep pembangunan yang diterapkan SBS di Kabupaten Malaka?

Ketika membolak-balik catatan harian saya sebagai seorang jurnalis bersama SBS dalam ziarah mengukir wajah Malaka, akhirnya saya bisa mendapatkan jawaban itu.

Konsep pembangunan total untuk rakyat. Sebuah jawaban yang lahir dari sebuah konklusi dari serangkaian peristiwa yang notabene merupakan buah dari pikiran dan perkataan serta kebijakan Sang SBS.

Kepada para Pimpinan Perangkat Daerah SBS selalu katakan, “Uang rakyat harus kembali kepada rakyat. Untuk rakyat tidak ada kata mahal. Untuk rakyat tidak ada istilah uang tidak ada”. Sederhana saja kedengarannya. Tetapi sesungguhnya konsep totalitas pembangunan seorang SBS terkandung di sini.

Pertama, Jika hal itu merupakan kebutuhan rakyat, wajib hukumnya bagi pemerintah untuk menyiapkannya.

Keterbatasan anggaran, misalnya, tidak bisa menjadi penghalang dalam prmbangunan, jika hal itu merupakan kebutuhan rakyat.

Apa yang dilakukan seorang SBS dalam membangun infrastruktur jalan di Malaka adalah bukti riil dari konsep totalitas ini.

Anggaran yang terbatas tidak menjadi halangan bagi SBS untuk mempercepat pembangunan infrastruktur.

Melibatkan pihak ke tiga untuk mempercepat dan memperluas jaringan akses jalan.

Ke Dua, dalam segala kebijakan pembangunan kepentingan rakyat harus diutamakan.

Hal ini yang kemudian membuka pikiran saya untuk mengerti, kenapa hingga memasuki tahun ke empat kepemimpinannya, SBS lebih memilih membangun Jalan Raya, Puskesmas, Rumah Sakit dan Sekolah, metimbang membangun perkantoran dan Rumah Jabatan untuk Pejabat.

Ketika membangun kantorpun, SBS memilih untuk mendahului kantor untuk para Wakil Rakyat dengan asumsi bahwa kantor itu akan langsung berhubungan dengan rakyat banyak.

Bahkan, ketika kebijakan pemimpin sebelumnya membangun sebuah rumah jabatan untuk Bupati, sang SBS lebih memilih untuk mengalihkan pemanfaatannya kepada Dinas Pertanian yang notabene langsung berurusan dengan mayoritas rakyat Malaka.

Ke Tiga, membangun jangan setengah-setengah. Saya kenal SBS sebagai pribadi yang perfectionis. Dalam arti, semua yang dikerjakan harus total dan tidak boleh main-main.

Suatu ketika, SBS marah besar dan langsung mengoreksi coran setapak di Lapangan Umum Besikama yang dipenuhi bekas-bekas telapak kaki karena sudah ada yang melintasinya ketika coran tersebut belum kering. “Ini untuk anak cucu, kerja jangan setengah-setengah”, kata SBS kala itu.

Hal itu juga selalu dikatakan SBS ketika membangun jalan, puskesmas, rumah sakit dan sekolah. Kualitas pekerjaan harus mempertimbangkan prmanfaatan dalam jangka waktu yang lama.

Dan yang lebih tegas, SBS selalu katakan, membangun itu harus sungguh-sungguh seperti membuat sesuatu untuk diri sendiri.

Saya lalu teringat pada sebuah kisah klasik yang sering diangkat Antonu de Mello dalam tulisan-tulisannya, begini: Sebelum berangkat ke suatu negeri yang jauh, seorang tuan kaya berpesan kepada orang kepercayaannya untuk membangun sebuah rumah mewah.

“Gunakan bahan-bahan terbaik di negeri ini. Carilah tenaga-tenaga terbaik untuk membangun rumah itu. Saat saya kembali, rumah itu sudah harus jadi”, kata tuan kaya itu.

Sepeninggalan tuannya, orang kepercayaan itu mulai bekerja. Tetapi ia lantas berpikir, tuanku sudah sangat kaya, punya rumah yang bagus-bagus tetapi saya dan keluarga tetap tinggal di rumah kecil dan sederhana.

Saya akan pakai bahan nomor tiga saja untuk bangun rumah tuanku ini. Saya akan sewa tukang biasa-biasa saja. Dan terjadilah demikian.

Ketika tuan itu kembali, ia mendapatkan rumah itu sudah jadi dan berdiri dengan megah. Bahan-bahan yang biasa dicat bagus sehingga tampak mewah. Tuan itu puas dengan kerja orang kepercayaannya.

“Selamat saudaraku, ini rumah anda. Saya berikan rumah ini sebagai hadiah kesetiaanmu selama bertahn-tahun”, kata tuan itu kepada orang kepercayaannya.

Saat itulah mulai timbul penyesalan dalam hati orang kepercayaan itu. Saya sudah terlanjur bangun rumah ini dengan bahan jelek dan dikerjakan oleh tukang-tukang yang tidak terampil. Tetapi semua sudah terlambat. Penyesalan tidak bisa merubah keadaan.

Dengan mengangkat kisah tersebut, saya tidak bermaksud mensejajarkan pihak manapun dengan orang kepercayaan tuan kaya itu. Point saya adalah, rasa memiliki dalam pembangunan.

Ketika semua pihak yang tetlibat dalan pembangunan merasa memiliki pembangunan tersebut, maka semua akan berjalan baik dan hasilnyapun bisa dinikmati anak cucu.*(john germanus)