Pimpinan Gereja Katolik Di Malaka Sepakat Dukung Kehadiran Tambak Garam Industri Di Pesisir Kabupaten Malaka

oleh -1.567 views

Betun, LikuraiOnline.com —— Para Pastor Katolik se-dekenat Malaka, Kabupaten Malaka akhirnya angkat bicara menanggapi hinggar-binggar isu dan pemberitaan terkait pro-kontra terhadap kehadiran tambak garam industri di pesisir Kabupaten Malaka.

Sebelum menyatakan sikapnya, para gembala umat tersebut meluangkan waktu untuk mengunjungi lokasi tambak garam industeri di Desa Weseben dan Desa Weoe, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, Selasa (28/05/2019).

“Kami datang untuk melihat dan mendengar sendiri apa yang terjadi di sini sebelum kami menyatakan sikap”, ujar Deken Malaka, Rm. Edmundus Sako, Pr ketika ditemui di lokasi tambak garam Desa Weseben.

Pastor Paroki Kotafoun kelahiran Weseben, Rm. Baltasar Seran, Pr mengungkapkan pengalaman masa kecilnya di Desa Weseben, bahwa lokasi yang saat ini dimanfaatkan untuk lokasi tambak garam adalah bekas lokasi penggembalaan ternak sapi dan kerbau.

“Saya lahir dan besar di Weseben imi. Memang dulu tempat ini bermanfaat untuk menggembalakan ternak. Tetapikalau sekarang digunakan untuk tambak garam, maka itu akan bermanfaat untuk banyak orang.

Pertama, tambak garam tersebut akan menyerap banyak tenaga kerja. Informasinya, bisa menyerap hingga 30 ribu tenaga kerja. Kita akan senang karena mungkin kita punya orang-orang yang kerja di luar Malaka bisa kembali.

Ke dua, tambak garam ini bisa menjadi sumbangan dari kita di Malaka ini untuk negara Republik Indonesia. Dari pada kita hanya minta dari negara, sekarang kita bisa sumbang sesuatu”, ungkap Romo Baltasar.

Pastor Paroki Kleseleon yang juga mantan Pastor Paroki Weoe di tahun 90-an, Rm. Leonardus Nahas, Pr juga mengungkapkan pengalamannya ketika mencari kepiting di lokasi tersebut kala bertugas di Weoe.

“Saya punya sedikit gambaran tentang lokasi ini sejak tahun 1999 ketika saya bertugas di Weoe. Bahwa di lokasi ini dulunya tambak ikan yang dikelola secara tradisional. Maka dengan menyimak apa yang saya baca di media terkait persoalan yang muncul maka saya katakan bahwa sesungguhnya kita sedang bersandiwara.

Kita harus bisa melihat secara obyektif, jika itu berhubungan dengan Bonum Commune (kebaikan bersama, red) masyarakat yang nota bene adalah umat kita, untuk apa kita harus bersandiwara. Untuk membangun atau membuat sesuatu yang baik itu kita harus obyektif”, ujar Romo Leo.

Romo Leo mengaku bangga ketika mendengar dan mengetahui bahwa masyarakat tidak menjual tanah kepada perusahaan, karena menurut dia, menjual tanah berarti menjual masa depan.

Sementara itu, Pastor Paroki Weoe, Rm. Pius Nahak, Pr mengatakan, setelah melihat, mendengar dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terkait lahan tambak garam tersebut, dirinya akan memberikan penjelasan kepada umat.

“Sekarang saya sudah bisa memberikan penjelasan kepada umat bahwa pembangunan ini baik. Maayarakat menjadi pemilik saham dan itu dapat diwariskan kepada anak cucu.

Bahwa kehadiran tambak garam menimbulkan efek cuaca panas, saya pikir itu hal yang biasa untuk memperoleh sesuatu yang baik barus berkorban”, ungkap Romo Pius.

Romo Deken Malaka, Rm. Edmundus Sako, pr yang memimpin rombongan para gembala umat tersebut mengatakan, sebagai pemimpin umat, para pastor mendukung kehadiran tambak garam industri di pesisir Malaka karena dinilai bermanfaat bagi kemaslahatan banyak orang.

“Setelah melihat dan mendengar sendiri, Deken dan para Pastor Paroki dan Pastor Pembantu se-Malaka menyatakan sikap mendukung tambak garam ini dilanjutkan, karena bermanfaat bagi kehidupan banyak orang”, tandas Romo Deken.

Para Pastor memberikan beberapa catatan antara lain agar pihak investor terus melakukan sosialisasi agar tidak terjadi salah paham berkepanjangan dan memperhatikan dengan serius hak masyarakat pemilik lahan.*(john germanus)