Petani di Malaka Sebut RPM Menyentuh Aspek Kehidupan Masyarakat Sehingga Pantas Dilanjutkan

oleh -944 views

Betun, LikuraiOnline.com — Warga petani lahan kering di Malaka Barat menganggap program unggulan Bupati SBS menyentuh langsung aspek terpenting kehidupan rakyat, yakni pangan, dan patut dipertahankan.

Para petani mengatakan hal itu bertolak dari pengalaman panen jagung pada musim tanam pertama tahun ini, dimana panen berlimpah dan sangat memuaskan.

Charollus Klau, Warga Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat mengakui hal itu ketika ditemui wartawan di kebunnya di Umatoos, Selasa, (30/04/2019).

“Tentu kami sangat puas karena hasil panen jagung tahun ini sangat berlimpah, dan kiranya bisa mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga kami tidak kelaparan”, ungkap Charollus.

Charollus mengakui, berlimpahnya panenan jagung di kebunnya tidak terlepas dari intervensi Pemkab Malaka melalui Revolusi Pertanian Malaka melalui program balik tanah gratis serta penyediaan bibit unggul.

“Karena itu, harapan sekaligus permintaan kami para petani, agar Bapak Bupati SBS mau melanjutkan kepemimpinannya serta mempertahankan program unggulan ini”, tandasnya dia.

Terkait rumor yang menyangsikan program Revolusi Pertanian Malaka, Charollus mengungkapkan, orang yang tidak mau mengakui kebaikan program ini hanyalah orang yang tidak mau bekerja keras dan selalu berpikiran negatif.

“Pemerintah sudah balik tanah untuk petani, memberikan benih dan pupuk lalu membuat pendampingan yang intensif. Apa yang tidak baik? Lantas, kalau ada petani yang tidak memanfaatkan kesempatan ini, apakah program ini salah?”, ungkapnya kesal.

Secara terpisah, Maria Luruk yang ditemui media ini di Desa Rabasahain, Kecamatan Malaka Barat, Selasa (30/04/2019) menuturkan, dirinya sebagai seorang janda merasa harga dirinya terangkat oleh program ini.

“Suami saya sudah meninggal lama dan sejak itu tidak ada yang kerja kebun untuk saya dan anak-anak. Tahun lalu, traktor gratis dari pemerintah balik tanah saya, kemudian saya terima bibit jagung juga.

Sehingga saya bisa bangga sekarang, karena saya bisa punya kebun besar dan panen jagung dari kebun sendiri, walaupun saya seorang janda”, ungkap Maria sambil mengusap air matanya.

Bagi Maria yang sederhana, bisa punya kebun sendiri walau berstatus janda merupakan indikator keberhasilan sebuah program yang disebut Revolusi Pertanian Malaka.

Karena itu Maria, Charollus dan para petani lainnya akan merasa kehilangan jika program ini terputus oleh sebuah suksesi politik.

“Harapan sekaligus permintaan kami para petani, agar Bapak Bupati SBS mau melanjutkan kepemimpinannya serta mempertahankan program unggulan ini”, ujar Charollus.*(john germanus/ kominfo malaka)