Penenun Tradisional Malaka Meraup Berkah Dari Kebijakan Busana Tenun dan Selendang

oleh -2.284 views

Betun, LikuraiOnline.com —- Kebijakan Pemerintah Malaka yang mewajibkan Aparatur Sipil Negara untu mengenakan busana tenun dan selendang mendatangkan berkah bagi para penenun tradisional di Kabupaten Malaka.

Penenun tradisional asal Desa Besikama, Kecamatan Malaka Barat, Lusia Luruk, yang ditemui media ini di kediamannya di Besikama, Minggu (05/05/2019) mengakui berkah yang didapatnya dari kebijakan pemerintah tersebut.

Menurut Lusia, sejak diberlakukannya kebijakan tersebut beberapa tahun belakangan ini, dirinya menggantungkan nafkah keluarga sepenuhnya pada hasil penjualan kain tenun.

“Sejak beberapa tahun terakhir ini, kami sekeluarga hidup dari menenun saja.

Dalam sebulan kami bisa hasilkan rata-rata tiga lembar kain sarung tenun, baik kain sarung perempuan maupun laki-laki, yang biasanya laku dijual dengan harga Lima Ratus Ribu Rupiah sampai Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah untuk sarung perempuan.

Sedangkan sarung laki-laki biasanya laku dijual hingga 1 Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah”, ujar Lusia.

Untuk menjual hasil tenunannya, Lusia mengaku, para pembeli yang mencari di rumah. Dan kelompok pembeli yang paling sering mencari tenunannya adalah para pegawai negeri sipil, yang kemudian diolah menjadi busana seragam dinas.

Lain lagi yang dilakukan Bernadete Bano, penenun tradisional asal Desa Rabasahain, Kecamatan Malaka Barat.

Ketika ditemui di kediamannya, Minggu (05/05/2019) mengungkapkan, selain menenun kain sarung, dirinya kebanyakan menghasilkan selendang Malaka yang sering diburu ASN hingga siswa di setiap jenjang sekolah.

“Kalau fokus kerja selendang saja, dalam satu bulan bisa dapat sampai Tujuh Selendang yang bisa kita jual dengan harga Seratus hingga Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah.

Tetapi kita tidak garap selendang saja. Kita garap kain sarung juga, selalu ada yang datang cari di rumah”, ujarnya.

Lusia dan Bernadete telah menggantungkan kehidupan keluarganya pada tenun ikat. Dalam sebulan, bisa mendapatkan pemasukan bersih hingga 1 Juta Lima Ratus Ribu Rupiah dari hasil menenun.

Keduanya berharap, kebijakan pemerintah tentang wajib busana kain tenun dan selendang tetap dipertahankan, sehingga kerajinan tenun tradisional di Malaka tetap menggeliat.

Karena pelestarian dan pewarisan kerajinan tenun ikat di Malaka semakin meredup, sehingga upaya untuk melestarikan wrisan budaya ini perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Malaka.

“Jaman kita remaja dulu, semua anak perempuan Malaka wajib tau menenun. Sehingga ada istilah, kalau belum bisa tenun berarti belum dewasa dan belum boleh berumah tangga. Sekarang tradisi itu sudah redup”, ujar Lusia diamini Bernadete.

Upaya melestarikan tradisi menenun di kalangan perempuan Malaka, secara diam-diam diupayakan Oma Umaferik di Desa Weoe, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka.

Di usianya yang sudah sangat tua ini, sang oma masih terus menenun. Tanpa kata. Ketika disapa, hanya menjawab dengan senyuman sambil menunjuk ke arah tenunannya.

Nilai apa yang akan didapatkan dari menenun bagi oma yang sudah melahirkan lima generasi ini?

Materi? Tentu sangat tidak mungkin. Bagi oma yang sudah menjadi gadis remaja sebelum masa penjajahan Jepang ini, menenun adalah merajut makna-makna hidup untuk diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang.

Oma Umaferik, Mama Lusia dan Mama Bernadete adalah tiga generasi berbeda yang terus berusaha merajut makna-makna hidup melalui utas demi utas benang yang terus dirajut menjadi lembaran indah sarung tenun Malaka.

Pemeeintah Kabupaten Malaka telah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan ASN di Malaka untuk mengenakan busana kain tenun serta kalung selendang pada hari tertentu.

Bagi perempuan Malaka sejati, kebijakan ini adalah berkah. Berkah dalam artian ekonomi sekaligus pedagogis. Bisa menambah penghasilan keluarga sekaligus membantu dalam hal pelestarian dan pewarisan kerajinan tenun bagi generasi Kartini Malaka.

“Wanita Malaka Dewasa Bisa Menenun”. *(john germanus)