Ini Taktik Pastor Lando dan Laskar OMK Untuk Perang Melawan Sampah di Paroki Seon

oleh -1.847 views

Betun, LikuraiOnline.com —- Program perang melawan sampah yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Malaka dibawah kepemimpinan Bupati dr. Stefanus Bria Seran,MPH  menginspirasi Pastor Muda Paroki St.Kristus Raja Seon, Kecamatan Malaka Timur, Rm. Erlando Afoan, Pr untuk ikut Berperang.

Beberapa jenis sampah plastik berupa botol bekas air mineral dan minuman lainnya, ditangan Pastor Lando, bisa disulap menjadi fas bunga yang benilai estetis sekaligus ekonomis.

“Awalnya saya terinspirasi oleh program Pak Bupati Malaka, yaitu perang melawan sampah. Saya berpikir, bagaimana caranya supaya sampah tidak hanya dibuang tetapi bisa dimanfaatkan”, ujar Romo Lando.

Bermula dari itu, Romo Lando terus mencari referensi lewat artikel-artikel dan berbagai sumber infornasi lainnya.

“Akhirnya, saya dapatkan ide untuk memulai. Bermodalkan pisau cutter, cat dan beberpa botol bekas, saya mulai bekerja”, kenang Romo.

Jadilah, di tangan terampil dan kreatif Pastor muda ini, lahirlah karya demi karya seni berupa fas bunga berbahan sampah botol plastik bekas.

Awalnya, fas bunga karya sang Pastor hanya untuk pajangan sendiri. Tetapi lambat laun beredar bisikan dari telinga ke telinga. Dan hingga saat ini, sudah puluhan fas bunga karya tangannya sudah menjadi pajangan di rumah-rumah umat.

Untuk mendapatkan satu fas bunga hasil daur ulang sampah plastik ini, orang tidak harus merogoh saku dalam-dalam. Karena, Pastor Lando hanya membandrol 20 Ribu hingga 50 Ribu Rupiah per unit, sesuai ukuran.

Setelah cukup menguasai teknik pembuatan fas bunga dari sampah botol plastik ini, Romo Lando berencana untuk menularkan bakat dan karya seni ini untuk kaum muda dampingannya di Paroki Seon.

“Dalam waktu dekat ini kita akan coba ajak OMK (orang muda Katolik, red) untuk ikut berkreasi memanfaatkan sampah botol plastik ini”, ujarnya mantap.

Semangat yang membara dalam diri Romo Lando untuk terlibat aktif dalam mensukseskan program Pemerintah untuk menciptakan lingkungan Malaka yang bersih dan asri tanpa sampah perlu ditularkan kepada masyarakat, khususnya kaum muda.

“Dari sampah menjadi uang. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi”. Prinsip yang patut diguguh.*(john germanus)