In Memoriam Bapak Martin Bria Seran; Sosok Pemersatu Itu Telah Pergi

oleh -3.321 views

Betun, LikuraiOnline.com — Langit Kabupaten Malaka mendung di hari Sabtu Pagi (22/06/2019). Gerimis merinai di sebagian besar wilayah Wewiku, Weliman dan Malaka Barat, ketika berita itu datang.

“Bapak Martin Bria Seran, B.Sc telah menutup usia”. Demikian bunyi berita duka yang tersebar lewat group WhatsUp dan layanan pesan singkat.

Siapa Martin Bria Seran? Apa yang sudah dilakukan semasa hidupnya sehingga kabar kepergiannya menghiasi layar ponsel dan menjadi buah tutur warga Malaka? Rangkaian pertanyaan itu yang menuntun kami untuk bertemu dan berbincang dengan Bapak Moses Mau, yang akrab disapa Bai Moses di kediamannya di Desa Wekmidar, Kecamatan Rinhat.

Bai Moses yang tidak lain Om dari Bapak Martin Bria Seran (alm) menengadah ke langit-langit rumah setelah tahu maksud kedatangan kami.

“Ulu Marten (begitu Bai Moses menyebut almarhum, red) lahir di Jawa, tepatnya di Purwokerto tanggal 05 Maret 1948.

Ketika itu, bapaknya almarhum Alexander Bria Seran atau orang biasa sebut Kopral Bria masih bertugas sebagai seorang tentara KNIL dan mamanya almarhumah Rosina Bano Muti Koun ikut memdampingi di medan tugas. Ulu Marten lahir sebagai anak pertama dari dua belas bersaudara.

Bai Moses menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca. “Setelah tamat sekolahnya di Jawa, Ulu Marten kembali dan memgabdi di Pemda Belu sebagai seorang Aparatur Sipil Negara.

Satu hal yang saya ingat betul dari Ulu Marten adalah bahwa Ulu itu sosok yang tidak ingat diri sendiri saja. Setelah kerja dan punya uang, Ulu Marten mengurus sekolah adik-adiknya, sampai mereka semua berhasil.

Ulu Marten selalu katakan bahasa ini pada adik-adiknya: “Hare malu, haliku malu, haliku ema wain iha leun no leo laran” (saling perhatikan dan saling jaga sebagai kakak adik, juga perhatikan sesama di suku dan di kampung halaman, red).

Ulu Marten memulai karier politik di Sekber Golkar Belu sejak tahun 1971. Sejak saat itu, Ulu mengurus banyak orang untuk menjadi wakil rakyat di Belu.

Ada beberapa putera Malaka yang menjadi DPRD Kabupaten Belu karena jasa Ulu Marten, seperti Pak Hila Fahik dan Pak Ande dari Weoe.

Ulu Marten itu sosok “Maklibur” (penghimpun – pemersatu, red). Pergaulannya sangat luas, baik di dalam keluarga besar, lingkungan kerja maupun di linhkungan masyarakat luas. Saya rasa, semua orang yang pernah kenal Ulu Marten akan memgatakan hal yang sama.

Satu prestasi besar yang diraih Ulu Marten sebagai Putera Malaka dan sampai saat ini belum ada yang mencapai prestasi itu adalah ketika Ulu Marten berhasil lolos ke Senayan sebagai anggota DPR / MPR RI tahun 1999 lewat Golkar.

Sekarang Ulu Marten sudah pergi, kembali kepada Sang Pencipta. Kita tidak akan melihat sosoknya lagi. Sapaan, nasihat dan canda tawanyapun tidak akan kita dengar lagi.

Tetapi hati, pikiran dan tutur kata Ulu Marten akan tetap hidup: “Hare malu, haliku malu, haliku ema wain iha leun no leo laran”.

Kisah Bai Moses tentang Almarhum Bapak Martin Bria Seran menuntun kami untuk berbincang dan berbagi kisah dengan beberapa tokoh yang pernah terlibat bersama almarhum.

Kami akhirnya bertemu dan berbincang dengan Bai Frans Bere Lekik, pensiunan ASN Kantor Camat Malaka Barat, yang juga mantan Kepala Desa Rabasa.

Pak Marten (begitu Bai Frans menyebut almarhum) adalah sosok yang cepat tanggap terhadap kesulitan yang dihadapi orang Malaka.

Ketika itu saya sebagai Kepala Desa Rabasa bersama masyarakat Desa Rabasa menghadapi masalah serius dengan oknum anggota TNI.

Waktu itu, Pak Marten datang dari Atambua untuk menyelesaikan masalah itu. Dan berhasil. Berkat kecerdasan pak Marten, masalah itu bisa selesai dalam sekejap saja. Padahal di era Orde Baru itu, siapa yang bisa sembarang omong dengan TNI.

Bai Moses dan Bai Frans adalah sedikit dari sekian ribu orang Malaka yang telah hidup bersama dan mengalami sosok Martin Bria Seran.

Kami yakin, kisah keduanya belum seberapa untuk melukiskan sosok seorang Martin Bria Seran.

Tetapi kuat keyakinan kami, bahwa kisah-kisah tentang sosok Martin Bria Seran sudah tertanam di dalam diri kita masing-masing sebagai anak Malaka.

Hukum kasih tertinggi dalam tatanan masyarakat Malaka: “Hare malu, haliku malu, haliku ema wain iha leun no leo laran”.

Selamat jalan Bapak Martin Bria Seran. Doa kami mengiringi perjalananmu ke Rumah Abadi. Doamu menyertai perjalanan kami di dunia ini.*(john germanus)