Diskusi Ringan Bersama Wartawan Di ‘Kantor Lapangan’, Bupati Malaka Ungkap Falsafa Revolusi Kesehatan Ibu Dan Anak

oleh -1.770 views

Betun, LikuraiOnline.com —– Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH menjelaskan falsafah Revolusi Kesehatan Ibu dan Anak (Revolusi KIA) yang diluncurkannya sejak menjadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Penjelasan Bupati Malaka tersebut disampaikan Bupati Malaka dalam diskusi ringan bersama awak media di “Kantor Lapangan” Bupati Malaka di Kompleks SDI Kletek, sambil memantau persiapan penginapan Kontingen ETMC, Jumat (28/06/2019).

Bupati Malaka menjelaskan, ketika itu ketentuan atau standar yang diterapkan pemerintah bahwa melahirkan yang baaik itu ditolong oleh tenaga kesehatan, entah dimana saja tidak jadi masalah.

“Waktu itu, ketentuannya bahwa melahirkan yang baik itu di mana saja tidak masalah, yang penting dibantu oleh tenaga kesehatan.

Nah, saya ubah konsep ini, bahwa melahirkan harus di Fasilitas Kesehatan yang memadai”, ungkap Bupati Malaka.

Menurut Bupati Malaka, ada enam ukuran untuk menentukan fasilitas kesehatan tersebut memadai.

“Pertama, ditolong oleh tenaga kesehatan yang berkualifikasi, dalam aspek kompetensinya, kualutasnya, kuantitasnya dan persebarannya.

Ke dua, peralatannya yang dibutuhkan untuk menolong ibu yang melahirkan harus memadai sesuai standarnya.

Ke Tiga, perbekalan yang dibutuhkan untuk supaya alat-alat kesehatan tersebut dapat digunakan untuk menolong ibu bersalin.

Ke Empat, gedung yang digunakan untuk membantu persalinan harus memadai: tidak boleh abu, tidak boleh kotor dan steril sesuai standar kementerian.

Ke Lima, memiliki jejaringan yang dibutuhkan untuk menolong persalinan. Misalnya, kalau butuh donor darah, sudah ada jaringan yang menyiapkan, atau kalau butuh rujukan, sudah bisa tiba dengan cepat di Rumah Sakit rujukan.

Ke Enam, harus ada anggaran dan pembiayaan yang memadai agar ibu bersalin bisa ditolong dengan baik”, jelas Bupati Malaka.

Fasilitas Kesehatan yang memadai tersebut juga ada syaratnya, yakni harus buka 24 jam. Dan ini hanya terdapat di dua tempat, yakni puskesmas dan rumah sakit.

Definisi operasional dari Revolusi KIA ini adalah ibu yang akan melahirkan dijemput dari rumahnya supaya bisa melahirkan di fasilitas kesehatan.

Tujuan dari konsep Revolusi KIA tersebut, lanjut Bupati, adalah untuk menekan angka kematian ibu dan bayi saat persalinan. Bupati mengakui, program tersebut berhasil karena angka kematian ibu dan anak di NTT terus menurun dari tahun ke tahun.*(john germanus)