Dari Workshop Pelembagaan Forum Perdamaian, Kadis PKPO Malaka: Jadilah Ketua Perdamaian

oleh -1.345 views

Betun, LikuraiOnline.com — Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (PKPO) Kabupaten Malaka, Drs. Petrus Bria Seran, MM membawakan materi tentang Peranan Kebudayaan Dalam Workshop Pencegahan Konflik Sosial pada acara Pelembagaan Forum Perdamaian Dalam Rangka Peningkatan Kohesi Sosial Dalam Pencegahan Konflik di Hotel Ramayana, Rabu (19/06/2019).

Workhsop tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Penanganan Daerah Pasca Konflik (PDPK) pada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonsia.

Pada kesempatan itu, Kadis PKPO berpesan agar tokoh adat, tokoh masyarakat dan kepala desa serta aparat desa yang hadir berani tampil sebagai ketua perdamaian.

“Harus berani jadi ketua perdamaian di tempat masing-masing. Dengan cara apa? Harus selalu mengatakan kabar gembira kepada semua orang yang dijumpai setiap hari”, ujar Petrus.

Petrus mengibaratkan agen perdamaian sebagai seseorang yang selalu membawa hal-hal manis dalam hidupnya. “Junjung gula lempeng, pikul tebu dan jinjing tuak manis”.

“Jadi ketua Perdamaian itu harus berpegang pada 3M: Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal kecil dan Mulai dari saat sekarang. Tujuannya gar semua orang bisa merasakan kedamaian dengan kehadiran kita”, pesan Petrus.

Penanggungjawab kegiatan dari Direktorat PDPK, Ir. Sukandar, MM kepada wartawan mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk memghidupkan kembali lembaga-lembaga yang ada di desa seperti PKK, Karang Taruna dan lain-lain dalam satu wadah yang terintegrasi.

“Tujuan utamanya adalah untuk Kampanye perdamaian, dengan menghidupkan kembali lembaga-lembaga tersebut”, ungkap Sukandar.

Sukandar mengapresiasi sambutan yang luar biasa dari tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh adat di Malaka terhadap kegiatan yang dilakukan pihaknya selama dua hari ini.

“Tidak salah lagi Malaka menjadi pintu gerbang perbatasan. Harapan kita, masyarakat Malaka di perbatasan ini menjadi tangguh sehingga tidak mudah tercerai-berai oleh konflik”, pungkasnya.*(john germanus)