Dari Malaka Ke Kalibawang;  Kami Bawa Kertas Putih

oleh -1.671 views

Kulon Progo, LikuraiOnline.com –—- Setelah melewati perjalanan cukup panjang menelusuri lorong Kota Yogyakarta,  melewati  hutan dan persawahan,  kami tiba di gerbang Puskesmas Kalibawang di Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.

Sebuah bangunan terpampang megah dihadapan kami. Tampak sederhana saja, tetapi aura keasriaan sungguh melekat pada bagunan tersebut.

Kami disambut dengan ramah oleh Kepala Puskesmas Kulon Progo, dr. Theresia Rudatun dan stafnya. Basa-basi sejenak, diselingi canda dan tawa, lalu diajak masuk.

Suasana menyenangkan lansung tampak di pintu masuk. Di balik sebuah meja bertuliskan “Informasi Pasien Baru’,  seorang wanita muda melemparkan senyum manis sambil berujar, selamat datang mas, monggo mba…  dan seterusnya.

Menginjakkan kaki di ruang depan, pandangan kami langsung beradu dengan lokat pendaftaran yang dikemas dengan sangat menarik. Deretan bangku-bangku memenuhi ruang depan tersebut.

Sedikit menoleh ke kanan, tatapan tampak loket kasir, loket penerimaan resep dan loket penyerahan obat. Sedangkan menoleh ke kiri, terlihat sebuah ruangan lain, yaitu ruang tindakan.

Kamipun terus mengayunkan langkah memgikuti petunjuk pada papan penunjuk arah yang mudah dibaca pada bibir lorong sebelah kanan: Konseling, KIA KB, Imunisasi, Aula, Musola, R.Akreditasi, Ruang Laktasi dan Ruang UKM, dan seterusnya hingga kembali ke ruang depan tadi.

Ditengah-tengah bangunan yang didesain melingkar tersebut, kami bertemu dengan beberapa hal baru. Misalnya ATM. Anda tentu tidak asing lagi dengan kata ini. Tetapi taukah anda, jika ATM di Puskesmas Kalibawang berbeda dengan ATM di manapun?

Ya, ATM di Kalibawang ini adalah Anjungan Tensi Mandiri. Sebuah peralatan tensi modern disediakan di pojok ATM untuk memudahkan siapa saja yang mau mengecek tensinya. Alat tensi yang bisa dilakukan sendirian ini sangat diminati pengunjung. Jelas ATM yang satu ini beda, bukan?

Pojok Membaca. Ini pemandangan lain yang ikut memberi warna pada Puskesmas Kalibawang, selain sebuah kolam yang indah dan sebuah pojok tempat bermain anak-anak.

Pada dinding-dinding bergelantungan aneka gambar promotif dan sosialisasi. Yang baru di tempat ini adalah papan bertulis “Komitmen Masyarakat Kalibawang Untuk Memdukung Puskesmas Kalibawang.

Ada 7 point yang disebut dalam komitmen yang ditandatangani warga tersebut, yakni Melakukan aktivitas fisik, Mengkonsumsi sayur dan buah, Tidak merokok, Tidak mengkonsumsi alkohol, Memeriksa kesehatan secara rutin, Membersihkan lingkungan dan Menggunakan jamban.

Ada suatu hal yang menarik perhatian, yang kiranya pantas dicontohi Kepala Puskesmas dan stafnya dalam melayani masyarakat.

Terkagum-kagum dengan keramahan Kapus dan staf Puskesmas Kalibawang,, saya coba membaur dengan masyarakat yng sedang antri untuk mendapatkan pelayanan.

Sekali lagi saya dibuat terkagum-kagum. Para petugas menyapa dengan lembut dan ramah dalam tata bahasa Jawa yang paling santun.

Saya lalu teringat pada pernyataan  Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dalam suatu kesempatan ngobrol santai, bahwa konsep rumah sakit yang baik itu adalah Hotel Plus, Restoran Plus dan Taman Plus.

Tiga hal tersebut, kata SBS akan sangat membantu pasien dan keluarganya melebihi obat-obatan mahal.

Benigno Lopes dan kelima rekannya terkagum-kagum mengamati semua hal yang dilihat dan mendengarkan dengan seksama semua penjelasan dr. Theresia dan staf-stafnya.

“Kami datang jauh-jauh dari Malaka hanya membawa kertas putih untuk menulis semua hal baik di Kalibawang ini.

Kami bawa wadah hati kami yang sudah kami kosongkan untuk menampung semua hal indah supaya bisa kami bawa pulang ke Malaka”,  kata Benigno, sang Kepala Puskesmas Babulu.

Sama dengan Benigno, hal serupa dirasakan dan diungkapkan Yulius Yustus Oktovianus Baboki, Kepala Puskesmas Oekmurak.

“Sudah banyak kata  kami tulis. Wadah hati kami sudah terisi hal-hal indah. Akan kami bawa pulang ke Malaka. Akan kami semaikan bibit-bibit baik yang kami dapat di sini. Tiada lain, tiada bukan, semua untuk pelayanan terbaik bagi masyarakat Malaka”,  ungkap Yulius.

Ya, banyak hal telah diisi ke dalam wadah hati dan juga pikiran 6 pegiat kemanusiaan di pedalaman Malaka.

Yang terpenting, keindahan tidak selamanya bersumber dari barang mewah. Bahwa hal sederhana sajapun bisa menjadi keindahan. Asal ada niat, debu bisa jadi permata.

Seperti kotak sampah yang sekilas kelihatan sangat mewah, tetapi tidak ada yang menyangka jika bahan bakunya adalah kaleng bekas cat.

Terimakasih berlimpah kepada yang telah mencari pengalaman  bersama di Kalibawang, Kepala Puskesmas Oekmurak, Yulius Yustus Oktovianus Baboki dan staf serta Kepala Puskesmas Babulu, Benigno Lopes dan staf.

Juga tim pendamping.  Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka, drg. Paskalia Frida Fahik dan Kasie Yankes Prima,  Ferdinandus Klau Seran, serta Tim Ahli Kesehatan, Agustinus Bebok, MS dan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat pada Dinkes Provinsi NTT, Emma Simanjuntak, SKM, MM, MScPH.*(john germanus)