Bupati Malaka Nyatakan Perang Melawan Stunting

oleh -1.705 views

Betun, LikuraiOnline.com —– Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas,  Bambang  Brodjonegoro telah menghimbau para Kepala Daerah untuk perangi ‘Stunting’.

Hal itu diungkapkan Bupati Malaka,  dr. Stefanus Bria Seran, MPH dalam sambutannya ketika membuka Musyawarah Rencana Pembangunan Kabupaten (Musrenbangkap) Malaka tahun 2019 di Aula Kantor Bupati Malaka, Rabu (10/04/2019).

Bupati Malaka mengatakan, Menteri PPN/ Kepala Bappenas menyampaikan himbauan tersebut dalam Rapat Forum Kepala Daerah Se-NTT di Kupang beberapa waktu lalu.

Menurut Bupati,  Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

“Stunting itu orangnya tidak sakit tetapi tidak sempurna. Penyebabnya  karena kurangnya asupan gizi sejak dalam kandungan”,  ujar Bupati.

Megutip himbauan Kepala Bappenas,  Bupati mengatakan,  untuk Nusa Tenggara Timur, masalah terbesar yang harus menjadi fokus perhatian adalah penyediaan air bersih.

“Bapak Menteri saja heran karena kita di NTT ini kekurangan air bersih tetapi anggaran untuk penyediaan air bersih dibawah satu Miliar Rupiah”,  tandas Bupati.

Karena itu,  Bupati menghimbau seluruh elemen yang ada di daerah,  termasuk organisasi perempuan untuk bersama-sama memerangi stunting di Malaka.

“Air itu kebutuhan,  jadi tidak ada istilah mahal atau tidak ada uang.  Moto kita adalah uang rakyat harus kembali kepada rakyat. Untuk rakyat tidak ada istilah mahal,  tidak ada istilah uang tidak ada”,  tegasnya.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini,  Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa.

Hal itu dikarenakan anak yang menderita stunting bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya.

Stunting akan sangat memengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.

Laman Kemenkes menuliskan, kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Padahal, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih.

Diterangkan Menkes, kesehatan berada di hilir. Seringkali masalah-masalah non-kesehatan menjadi akar dari masalah stunting, baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan. Karena itu, ditegaskan oleh Menkes, kesehatan membutuhkan peran semua sektor dan tatanan masyarakat.*(john germanus)