Budi Daya Singkong Untuk Dukung RPM, Warga Wewiku Ini Bakal Panen Ratusan Juta

oleh -1.453 views

Betun, LikuraiOnline.com — Gelora Revolusi Pertanian Malaka (RPM) yang digencarkan Pemerintah Kabupaten Malaka dibawah kepemimpinan Bupati SBS disambut baik warga Kecamatan Wewiku dengan inovasi baru di bidang pertanian, melalui budi daya singkong atau ubi kayu.

Warga Desa Alkani, Kecamatan Wewiku, Yohanes Manek yang ditemui wartawan di kebun singkongnya di Lamea, Sabtu (11/05/2019) menjelaskan,  sebagai masyarakat Malaka, dirinya menyambut baik dan sangat mendukung program unggulan Bupati SBS di bidang pertanian ini.

Yohanes yang akrab disapa Apingku menjelaskan, dirinya kerap merasa miris mendengar komentar-komentar yang menyebut RPM gagal.

“Saya kadang rasa miris mengengar rumor di tengah masyarakat bahwa RPM ini gagal. Kalau menurut saya pribadi, program RPM ini baik dan sangat tepat bagi daerah kita yang subur dan agraris ini.

Jadi saya pikir, baiklah kalau kita berikan kesempatan kepada pemerintah untuk menjalankan program ini sampai tuntas”,  ujar Apingku.

Sebagai bentuk sanggahan terhadap berbagai komentar tidak sedap yang memvonis RPM gagal, Apingku melakukan pendekatan dengan masyarakat petani untuk menemukan solusi yang tepat untuk mengatakan kepada publik bahwa RPM besutan Bupati SBS tidak seperti yang dikatakan orang.

“Pikiran saya sederhana. Dari pada hanya berdebat atau berkoar-koar saja, lebih baik kita carikan solusi yang pada prinsipnya mendukung apa yang sedang dikerjakan pemerintah. Toh, yang menikmati hasilnya adalah kita juga.

Maka saya putuskan untuk berdiskusi dengan masyarakat petani di sekitar sini untuk mencari solusi apa yang bisa dilakukan untuk jadi bukti ke masyarakat bahwa RPM sebenarnya sangat tepat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat”,  ungkap Apingku.

Setelah diskusi panjang dengan masyarakat petani, Apingku dan beberapa petani di Desa Lamea memutuskan untuk mengembangkan komoditas Singkong di Desa Lamea.

“Kita pilih singkong karena sesuai pengalaman kita, komoditas ini yang sangat cocok dengan tanah kita di Lamea ini.

Kita robah pola tanam singkong secara tradisional yang selama ini dilakukan masyarakat.

Biasanya petani disini tanam singkong sebagai selingan atau sisipan saja. Kita robah itu. Seluruh lahan kita tanami singkong dengan jarak tanam 1 Meter’,  ujarnya.

Selain karena dinilai cocok dengan kondosi tanah, singkong dipilih Apingku dan kawan-kawannya karena permintaan pasar lokal di Malaka terhadap singkong beberapa tahun terakhir ini meningkat pesat.

“Pantauan kita selama beberapa tahun belakangan ini, permintaan singkong di Malaka untuk diolah menjadi aneka panganan seperti kripik singkong, juga untuk kebetuhan pakan ternak melebihi penyediaan singkong di pasaran.

Kemudian, ada satu hal yang menarik, bahwa singkong ini bukan hanya umbinya saja yang bermanfaat tetapi daunnya juga punya nilai ekonomis sebagai sayuran.

Ada petani kita yang dua tahun terakhir ini memasok sayur daun singkong kepada pedagang sayur di Pasar Oeba, Kota Kupang.

Volumenya juga fantastis. Dalam sehari dia bisa kirim 1000 hingga 2000 ikat daun singkong dengan harga jual 5 Ribu Rupiah per 3 ikat”,  tambah Apingku.

Perawatan atau pemeliharaan komoditas singkong atau ubi kayu inipun dinilai mudah dan murah.

Untuk 1 hektar lahan, mulai dari persiapan lahan, penyediaan bibit, tanam hingga perawatan pasca tanam hanya dibutuhkan biaya 5 sampai 6 Juta Rupiah.

“Dari segi ekonomi, jelas budi daya komoditas ini lebih menguntungkan. Rata-rata dibawah 10 Juta per hektar. Tetapi hasilnya sangat besar.

Kalau kita tanam dengan jarak tanam 1 meter maka kita bisa tanam 10 ribu pohon per hektar.

Nilai jual di pasar, satu pohon berada pada kisaran 10 hingga 20 Ribu Rupiah. Kalau kita ambil nilai terendah saja, maka dengan modal 6 Juta tersebut kita akan mendapat 100 Juta Rupiah”,  tambah Apingku.

Tahun ini, Apingku telah menanam singkong di beberapa bidang lahannya dengan total luas lahan mencapai 18 Hektar.

Selain budi daya singkong di 18 hektar lahan miliknya, Apingku memberdayakan masyarakat petani di Desa Lamea untuk mendukung RPM. Petani yang memiliki lahan diberikan modal dari kantong pribadi.

“Masyarakat punya lahan, saya punya modal. Hasilnya kita bagi. Tujuannya hanya satu, yaitu menunjukkan kepada publik bahwa RPM bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat”,  pungkasnya.

Secara terpisah, Kepala Desa Lamea, Felisitas Imelda Nahak yang dikonfirmasi di kediamannya di Lamea, Sabtu (11/05/2019) membenarkan inovasi yang sedang dikembangkan di wilayahnya.

Menurut Felisitas, para petani sangat termotivasi dengan inovasi yang dikembangkan Apingku dalam hal budi daya singkong di Desa Lamea.

“Memang daerah Lamea ini sangat cocok untuk komoditas ubi kayu. Sehingga inovasi untuk kembangkan ubi kayu secara besar-besaran ini disambut baik oleh warga. Dan sebagai pemerintah Desa, kami sangat mendukung. Apalagi, permintaan pasar untuk ubi kayu sangat baik beberapa tahun terakhir ini”,  ungkap Felisitas.

Terkait rencana pengembangan usaha pengolahan panganan berbahan baku singkong, Felisitas mengungkapkan, mungkin suatu saat pihaknya akan memberdayakan kelompok PKK melalui BUMDes.

“Kita bisa kirim kelompok PKK untuk belajar pengolahannya di tempat lain lalu kita beri modal lewat BUMDes supaya mereka bisa kembangkan usaha di Lamea. Tetapi itu masih taraf rencana, sambil melihat perkembangan budi daya singkong ini nanti hasilnya seperti apa”,  pungkas dia.*(john geanus)