BPBD Kota Kupang Gelar Musda Forum Pengurangan Resiko Bencana

oleh -578 views

Kupang,LikuraiOnline.Com–Badan Penanggulangan Daerah Kota Kupang selalu siaga terhadap ancaman rawan  bencana terhadap perubahan iklim  baik bencana alam, bencana non alam maupun bencana sosial.

Hal ini disampaikan oleh panitia pelaksana kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) Forum Daerah Pengurangan Risiko  dan Adaptasi terhadap Iklim Djami Maxim Wila Huky di Hotel Sylvia Kupang,Selasa 1/10/2019.

Kegiatan dihadiri  oleh Direktur Pemberdayaan  Masyarakat Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiagaan BNPB, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT, Direktur Bank NTT, Pimpinan  Perangkat Daerah Lingkup Kota Kupang,Kepala BMKG Stasiun Geofisika,Stasiun Klimatologi dan Stasiun Meteorologi,NGO, Ketua PMI Kota Kupang, dan Pimpinan PT.Telkom Cabang Kupang.

Djami Maxim Wila Huky dalam laporannya mengatakan  bahwa Kota Kupang teridentifikasi memiliki potensi rawan bencana yang kompleks baik bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial.  Untuk mengurangi resiko bencana membutuhkan kerja sama  dan  sinergitas yang solid antar lintas sektor.

Wila Huky menguraikan, tujuan dari kegiatan ini yakni untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai upaya-upaya Penangulangan Bencana dan siap beradaptasi dengan perubahan iklim, penguatan kelembagaan forum Penangulangan Bencana dan pemilihan pengurus forum PRB Kota Kupang Periode 2019-2022.

Wakil Walikota Kupang  dr.Hermanus Man dalam sambutannya mengatakan bahwa resiko bencana tergantung pada tiga faktor yakni kerentanan,  ancaman dan kapasitas.  “Teknologi yang canggih Sangat menentukan Klimatologi untuk mengetahui adanya bencana,”katanya.

Ia menjelaskan, jenis ancaman bencana di Kota Kupang terdiri dari bencana alam, bencana non alam, bencana sosial. Menyikapi berbagai ancaman bencana di Kota Kupang ke depan perlu adanya Diklat mengenai mitigasi Pengurangan Resiko Bencana.

“Dalam mengurangi resiko bencana, harus adanya Perencanaan yang efektif dan tepat sebagai salah satu landasan untuk melakukan pencegahan bencana sejak dini,”katanya.

Kasie Usaha Padat Karya Sub Direktorat Pemberdayan Masyarakat Nurul Maulidhini dalam materinya menjelaskan, Kondisi bencana secara Nasional berada pada kondisi sedang dan tinggi. Bencana yang sering terjadi yakni hidrologi dan bencana kekeringan hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia dan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Riau.

Ia menjelaskan, salah satu target  dalam pengurangan resiko bencana yakni mengurangi korban jiwa dan kerugian ekonomi serta memberikan perlindungan bagi masyarakat, menjamin seluruh upaya penanganan bencana.

Selain itu kata dia, harus mampu mengidentifikasi risiko bencana untuk mengetahui ancaman bencana yang berbasis data Sedangkan secara keseluruhan sudah terbentuk 25 Forum pengurangan resiko bencana yang tersebar di wilayah Indonesia dengan mengacu pada UU no.24 tahun 2017  tentang penanggulangan bencana.

Sementara, objek penangan bencana yang sangat vital dan harus diperhatikan  bersama yakni  memastikan anggaran Penanganan bencana  di gunakan sesuai kondisi  bencana, adanya penilaian ketangguhan desa, relawan penanganan bencana, keluarga tangguh bencana dan program sekolah aman bencana.

Ketua Forum PRB Provinsi NTT Kristian Ngelan mengungkap bahwa forum ini sebagai ruang dialog bersama untuk merumuskan hal-hal strategis dalam penanganan Bencana di NTT. Untuk kelancaran penanngan bencana membutuhkan kerja sama lintas sektor

Ia berharap Forum ini  semoga memberikan langkah strategis dengan  membangun koordinasi dan komunikasi yang efektif untuk pengurangan resiko bencana dan memanfaatkan  keterpaduan program kerja serta  saling tukar informasi sebagai pijakan dalam menjalankan tugas di lapangan baik regional bahkan nasional.(Marfin).